Aceh, an isolated Indonesian province on the northern tip of the island of Sumatra, was hit hardest by the tsunami that occured there on Dec. 26, 2004. At least 131,338 people in Indonesia were killed by the tsunami and more than 25,000 people remain missing.
Related Coverage: Interactive Map: View the countries and regions most-affected by the December 2004 tsunami. Rebuilding Weligama: Videos and a blog tracking one community's rebuilding efforts.
Jauh di kedalaman Samudra Hindia terletak suatu kekuatan di dalam kerak bumi dimana dua lempengan tektonik yang besar bertabrakan, tak terlihat dan keduanya saling menekan diam-diam. Pada tanggal 26 Desember 2004 setelah lebih dari 100 tahun mengumpulkan tekanannya akhirnya meledak dan dasar laut naik yang mengakibatkan kejadian geologi yang besar dan mendesak jutaan ton bahan dasar laut untuk menghasilkan ombak yang begitu besar dan menghancurkan semua yang tegak berdiri: bangunan, kapal, mobil dan juga manusia. Tsunami di Samudra Hindia memecah dan melanda beberapa negara yang jauh seperti Somalia, Maldives, Sri Lanka dan Indonesia, dan merenggut lebih dari 200 ribu nyawa, sebagian besarnya merupakan anak-anak. Berikut ini adalah kesaksian dari beberapa orang yang bertahan hidup di Aceh di sudut barat laut Indonesia, yang terletak di pusat gempa. Cerita-cerita ini berasal dari orang biasa yang secara tragis dapat bertahan dari kejadian yang dahsyat ini yang menyebabkan mereka berkata seperti Sahbandi, salah seorang selamat di Keuniree, Pidie, dan berumur 50 tahun.
Saya kira ini adalah hari kiamat, ketika awal terjadinya gempa, saya keluar rumah dan duduk di tanah dengan tetangga-tetangga saya. Kemudian kami mendengar suatu bunyi letusan, kami kira mungkin ada peperangan yang terjadi, tetapi ketika anak lelaki saya lari ke arah kami dan mengatakan sesuatu yang mengerikan telah terjadi, dia berada di tepi pantai dan air laut surut dan menampakkan dasar laut dan ada tanah yang retak dan air yang kehitaman keluar dari dalamnya, dan sekarang ombak yang besar datang. Saya ambil dua cucu saya, salah satunya baru beumur 3 bulan dan kemudian kami lari. Air datang, dan ombak yang besar menghanyutkan kami. Baju saya tertanggal dan saya memegang cucu saya erat-erat saat kami timbul tenggelam, dan juga susah bernafas, tetapi tiba-tiba mereka terlepas dari gendongan saya. Tiba-tiba saya sampai di daerah tambak dan disana saya melihat anak laki-laki saya. Kami berenang untuk mendekat dan kemudian berpelukan satu sama lain di dalam air. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak bahwa ombak yang lebih besar datang. Kami memanjat pohon dan menunggu sampai air surut. Saya kembali ke desa saya setelah 50 hari dan mendapatkan bahwa rumah saya sudah tak ada lagi. Tidak ada yang tertinggal, saya hanya menemukan baju cucu saya yang sudah meninggal di dalam sampah-sampah yang berserakan...
Irwansyah Putra Siregar, 33 tahun, buruh bangunan di Calang: Saya sedang bergotong royong untuk memperbaiki fondasi mesjid di desa kami ketika kejadian itu terjadi. Setelah terjadinya gempa, saya kembali ke rumah untuk melihat keluarga saya. Pada saat itu semuanya dalam keadaan sehat, cuma ada beberapa piring yang pecah. Kemudian abang ipar saya datang tergesa-gesa, dan dia berkata ”cepat keluar, air datang!” ketika kami keluar, air menenggelamkan kami, demikian juga dengan kantor pemerintahan yang juga runtuh, kemudian datang lagi ombak yang kedua dari depan kami. Saya pikir kami semua akan mati. Saya berlari dengan istri dan ketiga anak kami menuju pegunungan tetapi air begitu cepat sampai di dekat kami. Istri saya menggendong anak perempuan kami erat-erat dan saya berusaha memegang kedua anak lelaki, tetapi anak yang terkecil terlepas dari gendongan saya. Saya berusaha untuk meraihnya kembali, tetapi dia sudah hanyut, Tuhan telah memanggil dia dan tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. Kemudian saya melihat ke arah istri saya dan mendapatkannya sedang menangis dan tangannya juga sudah kosong karena putri kami telah hanyut juga. Kemudian datang lagi ombak yang lebih besar dan menggulung kami. Ombak ini membuat kami timbul tenggelam, dan putra kedua saya juga dihanyutkannnya. Saya berusaha berpegangan pada kayu-kayu dan kemudian terbawa ke desa Kampung Blang-kira-kira 6 km dari desa saya- dimana saya pingsan. Ketika saya sadar, saya dapatkan tubuh saya dipenuhi dengan darah dan saya menyangka bahwa hanya saya seorang yang hidup di Calang ini. Di sekitarnya, saya tidak menemukan apa-apa kecuali banyak sekali mayat-mayat yang berdarah. Saya menyangka inilah hari kiamat.
Ihsan Fadli, 24 tahun, pengemudi, Meulaboh: Anak saya lahir pada hari Minggu dan ini merupakan putra pertama saya, jadi kami merayakannya dengan mengadakan kenduri. Saya sungguh merasa gembira. Kemudian terjadilah gempa dan saya menggendong bayi saya keluar untuk menyelamatkannya. Kemudian terdengar suara jeritan dan juga tembakan dari arah jalan, dan saya tidak dapat mempercayainya bahwa saya melihat ombak yang hitam setinggi rumah bergerak ke arah kami. Saya gendong bayi saya dan saya berlari bersama istri saya dan juga keluarga ke arah jalan, tetapi ombak sangat cepat menggulung kami dan bayi saya terlepas. Saya terbawa air sampai kemudian saya terdampar di atap seng sebuah rumah dan juga memutuskan jari saya, mengeluarkan darah dari tangan saya. Ketika air telah surut, saya turun. Rumah saya telah hilang, banyak orang-orang yang menangis. Tak berapa lama saya bertemu dengan kedua orang tua saya, tetapi saya kehilangan istri dan anak saya. Mereka dinyatakan hilang, tetapi saya tahu mereka telah meninggal dunia. Saya baru kawin satu tahun, saya sangat mencintai istri saya, saya masih menyayanginya. Setiap hari saya berteriak ke udara lepas “Saya mencintai kamu, saya sayang anak kita”.
Pardian Syahputra, 9 tahun, pelajar sekolah dasar, Banda Aceh: Saya tidak ingat apa yang terjadi secara jelas, tetapi tiba-tiba ada boat penangkap ikan dari Lampulo di jalan depan rumah kami. Dia bergerak ke arah rumah kami dan menghancurkannya. Kemudian air membawa saya entah kemana. Orang tua dan bibi saya berteriak meminta tolong, dan juga memangil-manggil saya, tetapi air telah menghanyutkan saya. Air itu sangat kotor, penuh dengan sampah-sampah dan juga barang-barang yang menabrak orang-orang. Kemudian ombak yang ketiga datang dan membawa saya lebih jauh lagi. Saya berusaha memanjat ke atap dan kemudian saya berada disana sendirian sampai sore hari, saya sangat takut melihat mayat-mayat dimana-mana, juga ada yang masih anak-anak. Ketika air sudah mulai surut, ayah saya datang dan menurunkan saya. Dia mengatakan bahwa bibi dan ibu saya telah meninggal dunia.
Mulya, 29 tahun, penjual ikan, Lampulo: Saya sedang berjualan di kedai saya ketika gempa datang, kemudian saya pulang ke rumah untuk melihat istri saya dan mendapatkannya selamat. Semua keluarga saya ada disana dan kami berdiri di luar dan bercerita dengan penduduk kampung yang lain. Tiba-tiba, seseorang berteriak bahwa ombak datang – dan kelihatan sepertinya setinggi 30 meter. Kami berlari bersama abang ipar saya, dan juga keluarganya. Dia meminta saya untuk menyelamatkan bayinya, yang berusia 14 bulan. Kemudian saya mengambilnya dan kami semua lari ketika ombak datang ke arah kami dan memisahkan kami. Istri saya terlepas dari saya dan juga ombak menggulung saya ke bawah. Saya memegang bayi itu seerat mungkin, kemudian pada saat saya timbul keatas air, istri saya telah hilang. Saya tertabrak dengan kayu-kayu dan juga sampah, saya kira ini adalah hari kiamat. Saya pegang erat-erat bayi itu ketika saya terhanyut lagi. Saya berkata pada diri sendiri “Jika ini adalah hari kehancuran, biarlah saya mati, tetapi jika bukan tolong selamatkan kami.” Kemudian sebatang pohon menabrak kami dan melepaskan bayi dalam pelukan saya. Saya lihat dia dihanyutkan, saya berenang sekuat tenaga melawan arus dan kemudian saya dapat meraihnya kembali, tetapi lagi-lagi saya tertabrak dengan kayu, mobil dan sampah-sampah. Saya panjat pohon sampai ke puncaknya, tetapi air masih lagi naik. Bayi itu menelan begitu banyak air. Saya berdoa pada tuhan untuk menolong kami dan dalam beberapa menit bayi itu memuntahkan air laut dari dalam mulutnya. Setelah satu jam air surut dan seseorang datang menolong saya. Kemudian saya melihat bapak dari bayi itu. Dia mengambilnya dengan berlinangan air mata dan juga kami saling berpelukan.
Sri Rahayu, 30 tahun, ibu rumah tangga, Lamprit: Saya baru saja meninggalkan rumah sakit dimana anak saya sedang dirawat, jaraknya dekat dengan rumah saya. Kemudian terjadilah gempa dan sangat luar biasa, kubah mesjid Lamprit rubuh dan menaranya miring. Ketika saya sampai di rumah, saya mendengar suara yang saya kira suara badai. Saya berkata pada adik saya “mari kita masuk ke rumah, mungkin akan datang topan.” Tetapi kemudian polisi datang memberitahu kepada semua orang bahwa “air laut naik, lari untuk selamatkan diri dan berdoa kepada Tuhan!” Ketika saya melihat air, saya tidak percaya ini benar-benar terjadi, ombaknya kira-kira 2 meter tingginya. Saya mengambil anak saya yang berusia lima tahun dan menyeret dia ke arah jalan. Kakinya tergores dan terluka karena saya menyeretnya, tetapi saya tidak peduli, saya hanya ingin menyelamatkannya. Kami lari kembali ke rumah sakit dan dengan yang lainnya naik ke tingkat tiga rumah sakit itu. Pintunya tertutup sehingga kami berusaha untuk mendobraknya bersama-sama. Dari situ kami bisa melihat kehancuran yang terjadi di bawah, air ada dimana-mana, atap-atap rumah hanyut, mobil-mobil dan juga sejumlah anak-anak di halte bus. Dan kemudian mereka hanyut, mereka tertabrak dengan mobil, kayu, kulkas dan televisi, semuanya bergerak sangat cepat dan sangat mengerikan melihatnya.
Zainab, 25 tahun, ibu rumah tangga, Samudra: Saya sedang membersihkan rumah ketika gempa. Saya duduk di jalan dengan saudara perempuan dan keponakan saya, ayah saya yang lumpuh tetap berada di dalam rumah. Tiba-tiba sepupu saya lari ke arah kami sambil berkata “air laut naik!” Saya raih keponakan saya yang berumur 4 tahun dan menggendongnya dengan kain batik panjang. Tidak ada seorangpun yang menolong ayah saya, jadi saya juga berusaha untuk menolongnya. Ketika kami sampai dekat dengan lapangan, kami digulung oleh ombak. Saya terhanyut dengan keponakan saya yang berkata bahwa kami akan mati. Saya berusaha untuk mencapai pohon kelapa, baju saya terlepas dan kemudian saya sadar bahwa saya sekarang hanya memakai celana dalam saja. Saya merasa sangat ketakutan. Kemudian saya melihat seorang laki-laki penderita lepra dari desa saya. Dia menaikkan anak-anak dari air dan menempatkannya pada sejumlah bambu. Air masih saja naik dan kami perlu untuk memanjat lebih tinggi lagi. Saya meminta pertolongannya, jadi dia mengambil saya dan keponakan saya untuk memanjat lebih tinggi dengannya. Tidak lama kemudian ombak menghantam kami dan saya menyerahkan keponakan saya. Rumah saya hilang, tetapi semua keluarga saya selamat demikian juga ayah saya.
Mawardi, 28 tahun, penarik becak, Banda Aceh: Saya sedang mengendarai becak melewati penjara pada hari pertama setelah tsunami ketika saya mendengar suara laki-laki yang berteriak untuk meminta tolong. Bersama dengan yang lain kami menemukannya, terperangkap di bawah lantai permanen penjara itu dimana bangunan ini runtuh ke atasnya. Kami berusaha untuk menggerakkan reruntuhan dan batangan besi di sekitarnya, tetapi rasanya tidak mungkin, kami memerlukan mesin untuk melakukannya. Sehingga kami harus meninggalkannya, menangis dalam kesakitan. Saya kembali lagi pada keesokan harinya, tetapi dia telah meninggal dunia semalam, sendirian. Mayatnya tetap terperangkap disana sampai tanggal 3 Januari, dan di sekitarnya ada juga mayat yang lain tersangkut pada batangan besi. Pada saat itu kita tidak terlalu berpikir tentang yang sudah mati. Kami terlalu sibuk untuk mencari yang masih bertahan hidup dan keluarga kami yang hilang.
Maimunah, 90 tahun, Pulo Aceh: Saya bangun di awal pagi untuk melakukan shalat subuh dan mendapatkan bahwa langit begitu merah hari itu. Ini tidak seperti biasanya. Saya keluar dan mendapatkan tidak ada angin, ataupun angin sepoi-sepoi, dan kemudian awan hitam berkumpul di langit seolah-olah akan terjadi badai. Kemudian terjadilah gempa, saya masuk ke dalam dan membangunkan putra dan juga cucu saya dan menyuruh mereka untuk mendaki bukit di dekat rumah kami. Saya tahu bahwa Tuhan Semesta Alam ini akan menghukum orang-orang yang berdosa hari ini. Kami lari ke arah bukit bersama-sama dengan penduduk kampung yang lainnya, dan ada yang menyuruh mereka untuk berlari lebih cepat, saya dapat merasakan bahwa bencana ada di belakang kami. Dari tempat yang aman di atas bukit kami melihat ombak laut raksasa menghancurkan desa-desa, tidak ada kekuatan di muka bumi ini dapat menahannya. Kemudian sebuah boat penangkap ikan menyelamatkan kami. Saya melihat keagungan Tuhan pada hari itu.
Aidil Taha, 52 tahun, Nelayan, Alue Naga: Saya berada di pantai dan sedang memancing ketika terjadinya gempa. Laut bergelombang dan ombak saling bertabrakan dalam segala arah, sehingga saya bertiarap di atas pasir dan menunggu sampai gempa itu selesai. Kemudian, saya tidak mempercayai apa yang saya lihat. Saya belum pernah lagi melihat kejadian ini sebelumnya dalam hidup saya – laut telah jauh surut. Saya dapat melihat karang-karang di bawah laut, dan juga ikan bertebaran. Kemudian saya langsung pergi dan menangkap ikan-ikan yang besar kemudian saya melihat ombak. Sudah tentu saya langsung menjatuhkan ikan-ikan itu dan berlari menyelamatkan diri, tetapi ombak begitu besar dan tidak ada jalan untuk menghindarinya, saya dibawa ombak ke arah jembatan Krueng Cut dimana saya pikir saya telah selamat, tetapi tiba-tiba datang ombak yang kedua dan membuat saya pingsan. Ketika saya terbangun, entah bagaimana saya tersangkut pada sebatang pohon di Simpang Mesra-kira-kira 7 km dari desa asal saya, dan ketika ombak ketiga datang saya terbawa ke tingkat kedua sebuah toko. Saya mendapatkan jari saya patah dan juga saya menjadi telanjang, tetapi saya masih hidup. Tuhan telah menyelamatkan saya dan keluarga saya, kami semua selamat.
Sari Ekawati, 30 tahun, pegawai honorer di Koperasi PLN Wilayah, Banda Aceh: Saya sedang membantu ibu untuk memasak, dan abang saya sedang memanasi mobilnya di luar. Ketika gempa datang kami semua keluar rumah, kami menyangka rumah kami akan runtuh. Kemudian datang peringatan dari seseorang yang berteriak “air laut naik!” Saya berlari dengan yang lainnya, dan saya melihat abang saya mengendarai mobil bersama dengan orang tua saya, tetapi sebelum mereka sampai di ujung lorong rumah kami mereka tersapu oleh ombak. Kemudian ombak juga menyapu saya. Airnya sangat hitam, panas dan berlumpur dan saya tidak dapat meraih apa-apa untuk pegangan, air itu menghanyutkan saya, kemudian saya melihat tiga keponakan saya bertahan pada sampah-sampah kayu. Tetapi ketika ombak yang berikutnya datang saya tidak lagi melihat mereka. Setelah itu, saya melihat mayat-mayat dimana-mana. Saya kira bumi ini akan hancur, semua orang berteriak minta tolong. Abang saya selamat, tetapi saya kehilangan orang tua dan juga keponakan saya dan juga abang dan kakak saya yang lainnya. Mayat mereka tidak pernah diketemukan, mereka semua telah meninggal dunia. Apa yang dapat saya katakan lagi? Saya berharap Tuhan akan membimbing saya dalam sisa umur saya- hanya itu harapan saya.
Ir. T. Mufizar, 47 tahun, Kepala Dinas Kehutanan, Calang: Saya dan semua keluarga saya, selain anak tertua saya, berada di dataran tinggi ketika ombak datang, semua berteriak ketakutan di sekitar kami. Kubah mesjid kelihatan seperti piring yang terapung di dalam air. Orang-orang tidak mempunyai kesempatan – air kelihatan seperti magnet, menggulung dan menenggelamkan orang-orang ke bawahnya, airnya hitam seperti lumpur, penuh dengan kayu-kayu, logam, besi, kulkas, mobil, truk, dan sepeda motor - air menghanyutkan segalanya, tergulung, ke dalam dan ke bawahnya, diantaranya juga ada orang yang telah meninggal dan sekarat. Saya pikir ini adalah hari pembalasan tuhan telah menenggelamkan dunia ini. Kami tinggal di gunung selama tiga hari dengan sekitar 2.500 orang lainnya. Tidak ada tempat yang lain yang dapat kami tuju, semua benda telah tersapu ombak. Kami menemukan sekarung beras di dalam lumpur dan kemudian kami memakannya. Semua orang kelaparan waktu itu. Kemudian, kami berenam berusaha untuk pergi ke Banda Aceh dengan boat untuk mencari pertolongan. Kami pergi ke pendopo Gubernur, dia sedang shalat waktu itu dan saya melihat sisa-sisa makanan disana. Saya sangat lapar. Saya mengumpulkan sisa –sisa itu dalam satu mangkuk, dan karena saya merasa malu, saya memakannya di kamar mandi. Saya melaporkan bahwa kami memerlukan beras dan juga makanan yang lainnya dan juga bahan bakar minyak. Departemen Sosial memberi kami 200 kotak mie instan, tetapi mereka tidak memberikan beras, prosedur dari pemerintah Indonesia sangat rumit, bahkan Badan Urusan Logistik – BULOG, tidak bisa memberikan kami sedikit beras. Akhirnya kami mendapatkannya dari Palang Merah Indonesia. Ada beberapa rintangan dalam mendapatkan bantuan untuk orang-orang di daerah saya, dan kemudian saya teringat anak saya yang masih hilang. Saya berkata pada diri saya bahwa saya lebih beruntung daripada yang lainnya, saya masih lagi mempunyai tiga orang anak dan juga istri, ada orang yang kehilangan semuanya; tetapi dia tetaplah anak saya dan hati saya berkata bahwa dia selamat. Dan ternyata memang dia selamat dan saya menemukannya di Krueng Cala, tetapi kakinya terluka parah. Saya tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaan saya. Saya menangis walaupun sebelum ini saya tidak pernah menangis, dan saya berteriak keras ke semua orang-anak saya masih hidup! Dia merasa bersalah karena semua kawan-kawannya meninggal dunia dan dia juga menangis. Sebelum saya kembali ke tempat pengungsian, saya membawanya ke rumah sakit dimana kemudian kakinya diamputasi. Tetapi Tuhan masih menyelamatkan hidupnya.
Juanda, 28 tahun, Pekerja Kemanusiaan, Simpang Surabaya: Saya sedang bekerja mempersiapkan sebuah pertemuan, saya merasakan bangunan bergoyang dan kemudian keluar karena kami tahu bahwa itu adalah gempa. Seorang kawan saya yang mempunyai sepeda motor menyarankan agar kami lari ke arah kota untuk melihat apakah semuanya baik-baik saja. Ketika kami sampai disana kami melihat banyak bangunan yang runtuh, dan orang-orang berdiri di sekitarnya dan terlihat ketakutan. Dari sana kami pergi ke Blang Padang, tetapi ketika kami mendekatinya, orang-orang lari ke arah kami dan berteriak “air laut naik!” Ada juga orang-orang di dalam mobil, tancap gas, menabrak orang-orang, tanpa memperhatikan orang lain, menabraknya dan melukainya, sehingga orang-orang tersebut tak bisa lari lagi. Kemudian kami mendengar suara yang besar seperti suara mesin pesawat terbang, dan kami melihat air. Hal ini sungguh luar biasa, sangat tinggi, lebih tinggi dari bangunan di sekitar kami. Ketika air itu berjarak sekitar 100 meter dari kami, kami berusaha memanjat menara air. Tetapi ombak sangat kuat dan menyapu saya jauh ke udara. Ketika saya terapung saya melihat kabel listrik di atasnya, saya berusaha meraihnya dan bergantung dengan kuat sedang air di bawah saya mengamuk, membawa semua orang dan benda. Saya sangat beruntung, saya dapat bertahan dan juga keluarga saya. Tetapi saya mengalami trauma dengan semua kejadian itu, dan setiap malam ketika saya tidur saya seperti melihat kembali apa yang terjadi kembali: orang-orang yang ditabrak mobil, mayat dan orang yang hidup terbawa air di bawah saya ketika saya bergantung di sana dalam keputus-asaan. Tidak ada yang dapat saya lakukan untuk menolong, ombak itu sangat marah waktu itu.
Albar, 45 tahun, Camat Pegasing, Aceh tengah: Sebelumnya saya adalah seorang kepala bagian di Departemen Sosial Aceh Tengah dan saya berada di rumah di kecamatan Bebesan ketika tsunami terjadi. Saya tidak pernah merasakan kekuatan gempa sebesar ini sebelumnya. Saya merasakan itu seperti takdir Tuhan, saya merasa itu seperti hikmah dalam Al Quran yang ditunjukkan kepada kita; dan juga merupakan ajang instropeksi diri yang menunjukkan kebesaran Tuhan. Tetapi tidak ada bangunan yang runtuh ketika itu, walaupun aliran listrik sempat terganggu. Ketika kejadian itu selesai, para pengungsi datang membanjiri ke kecamatan kami. Pada awalnya ada kira-kira 600 orang, tetapi kemudian terus bertambah, sehingga saya mulai mengatur masalah makanan dan juga tempat tinggal buat mereka. Sebagian besar mereka tinggal dengan penduduk setempat, semua penduduk sungguh luar biasa dan semuanya menolong bersama-sama. Ketika saya melihat mereka bersedih, orang-orang yang kehilangan berdatangan di Pegasing, saya sangat tersentuh dan mengingatkan saya bahwa kita semua adalah satu dan sama di mata Tuhan. Kami memberikan mereka makanan, sayur mayur, pakaian bekas dan uang, sehingga mereka dapat menemukan semua akomodasi ketika mereka memerlukannya. Saya juga membawa beberapa pengungsi untuk tinggal di rumah saya sebanyak 10 orang. Sekarang hanya tinggal satu orang yang telah kehilangan semuanya, juga keluarganya. Saya telah menganggapnya sebagai anak saya sekarang ini. Rumah saya adalah rumahnya, dia adalah keluarga saya.
Kopka Baharuddin, 48 tahun, Anggota Koramil Blang Bintang: Saya berada di rumah pagi itu, bersiap-siap mau bertugas, jadi saya sedang mandi sewaktu gempa. Semua orang dalam keadaan panik. Saya mengambil sepeda motor saya dan mengendarainya ke arah kantor saya, tetapi tanah masih bergoyang dan saya terjatuh beberapa kali. Ketika saya sampai di kantor saya, saya melihat ombak yang hitam mendekati saya. Pada awalnya saya pikir itu hanyalah banjir biasa, tetapi ketika saya lihat betapa besarnya air itu dan menjatuhkan sepeda motor saya, saya mulai berlari. Saya berusaha untuk memanjat pohon asam dan melihat ke bawah air mengalir penuh dengan sampah-sampah dan juga mayat. Saya melihat rumah saya dari kejauhan, dilanda ombak dan saya berdoa agar semua keluarga saya selamat. Seorang laki-laki yang hanyut di dekat saya meminta tolong, tetapi saya tidak dapat melakukan apa-apa. Saya melihat seorang wanita tergulung di bawah ombak hitam itu, kemudian tidak muncul lagi, dan saya melihat seorang anak hanyut sedang duduk di atas spring bed, di atas kasur, dia hanya duduk saja, nampak tenang melihat orang-orang di sekitarnya meminta tolong. Keluarga dan teman-teman saya selamat semua, tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi terhadap orang-orang yang terbawa ombak dan juga anak kecil itu. Saya tidak pernah tahu.
Abrip Sembiring, 50 tahun, anggota Polisi di Polsek Pulo Aceh: Orang-orang dalam keadaan panik setelah gempa, dan kemudian seseorang berteriak bahwa air laut naik. Saya melihat ke belakang kantor saya dan melihat air laut surut dan ini sangat menakjubkan dan saya dapat melihat dasar laut. Kemudian ombak yang pertama datang, ombak itu sangat tinggi, saya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Saya berlari dengan yang lainnya ke arah bukit. Tetapi ombak itu memecahkan sebagian bukit itu. Ketika saya mendaki ke puncaknya, saya merasa seperti saya berada di sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut, semua daratan kami telah tenggelam. Saya teringat keluarga saya dan saya begitu mencintai mereka dan saya bedoa agar mereka semua selamat. Kami tinggal di bukit itu untuk dua hari. Kami makan apa yang kami dapat : umbi-umbian, daun singkong dan kami minum air kelapa. Kami berdoa bersama di sana, tetapi seorang ulama berkata bahwa ini adalah hari pembalasan, dan adalah sangat terlambat meminta pengampunan sekarang, kita harus melakukannya sebelumnya, ketika kita masih diberi kesempatan, tetapi itu semua sudah berakhir. Saya merasa sangat aneh waktu mendengarnya. Tetapi saya masih teringat tentang keluarga saya dan memutuskan untuk mencoba mencari mereka. Sejumlah nelayan menjemput kami dan membawa kami ke Lampulo di Banda Aceh dan berjarak sekitar 10 km dari tempat asal saya. Pemandangan yang saya lihat sangat luar biasa dalam perjalanan saya dari Lampulo ke Blower, rasanya kaki saya tidak menginjak tanah lagi. Saya berjalan di atas sampah, pecahan kayu, reruntuhan bangunan dan di sekitar saya juga banyak mayat, sebagian dari mereka telanjang karena air laut telah menanggalkan pakaian mereka. Dimana saja yang bisa, saya menutupinya, tetapi sebagiannya tidak dapat saya lakukan. Ketika saya tiba di Blower, saya tidak menemukan seorang pun, keadaan terasa sunyi seperti kota hantu. Ketika saya sampai di Banda Aceh saya dengar dari saudara saya kalau keluarga saya selamat dan kemudian saya memulai menolong dengan tenaga yang tersisa. Kami mendapatkan pakaian dan juga air mineral, tetapi itu tidaklah mencukupi untuk semua orang. Tetapi kami semua merasa sebagai sebuah keluarga besar dan saling tolong menolong apa yang bisa kami lakukan.
Ayu Trie Utami, 18 tahun, Pelajar, Ulee Lhue: Setelah gempa saya keluar rumah dan duduk di jalan bersama semua keluarga saya. Dan kemudian langit menghitam dan dipenuhi dengan awan-awan hitam. Pada awalnya saya tak dapat mengira apa yang akan terjadi, tetapi yang mengejutkan saya ternyata awan hitam itu adalah ombak yang sangat besar. Sebelum saya melakukan sesuatu, ombak itu menghantam saya dan di sekeliling saya menjadi gelap. Saya mengira saya telah mati. Ketika saya sadar, saya dapati bahwa saya berada di depan Universitas Iskandar Muda di Surien. Semuanya kelihatan kabur ketika saya terhanyut timbul tenggelam dalam ketidaksadaran saya. Saya membuka mata kemudian, dan kemudian saya pingsan lagi ketika melihat begitu banyak mayat di sekitar saya. Setelah beberapa lama saya sadar kembali dan menemukan bahwa saya dalam sebuah mobil. Orang-orang di sekitar saya sangat terkejut ketika saya membuka mata. Mereka mengira saya telah mati, dan juga tidak ada sedikitpun luka di badan saya. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa bertahan hidup, dan kenapa saya harus hidup ketika semua keluarga saya hilang dan saya tidak dapat menemukan mereka lagi.
T. Alfian, 28 tahun, montir, Keudah: Ketika gempa datang, saya adalah seorang narapidana di pejara Banda Aceh dengan kesalahan menjual narkoba. Kami sedang berbicara tentang gempa yang baru saja terjadi, dan kemudian gempa yang kedua datang,. Kami mendengar suara ribut dan kemudian penjaga penjara membuka pintu gerbang. Tetapi itu sudah sangat terlambat, air laut telah masuk ke dalam penjara dan saya berpikir jika saya keluar, air laut akan menghanyutkan saya. Kemudian saya masuk kembali dan memanjat ke atas sebuah dinding. Tetapi air itu sangat kuat dan menjatuhkan dinding itu, dan entah bagaimana saya berada di atas atap seng, dan kemudian ombak menghancurkannya lagi, dan saya beruntung terbawa air yang mengalir deras itu. Pada awalnya saya berusaha untuk meraih ranting pohon, kemudian saya berpegangan pada sebuah kulkas. Saya berusaha untuk mendekati pohon pinus, tetapi ombak yang berikutnya datang dan menghanyutkan saya lagi yang mengakibatkan saya timbul tenggelam bersama air yang mengalir. Saya timbul kembali di jembatan Pante Pirak kira-kira 500 meter dari penjara, tetapi air masih ada dan kemudian menghanyutkan saya lagi. Tak lama kemudian air menjadi lebih tenang dan saya terdampar di pinggiran sungai di belakang rumah sakit kesdam. Saya melihat banyak mayat dimana-mana dan di antara semuanya ada seorang anak kecil yang berjuang di tengah sungai, menjerit meminta tolong. Tetapi arus masih lagi deras dan saya sangat lemah dan keletihan, saya tidak dapat melakukan apa-apa kecuali melihat air menghanyutkan anak itu. Kemungkinan dia telah mati sekarang ini. Saya merasa sangat bersalah karenanya sampai saya mati nanti. Saya berbaring disana dan bertahan sampai air surut dan kemudian seorang lelaki tua datang dan memberikan saya minum. Saya memuntahkan air hitam yang tertelan dari aliran air tadi, menarik nafas dan kemudian mencari istri dan orang tua saya. Mereka menangis kesenangan ketika mereka melihat saya dan kami berpelukan, saya sangat bersyukur saya selamat.
Aries, 10 tahun, anak lelaki, Blower: Saya sedang mandi di rumah ketika gempa datang. Saya berlari keluar hanya dengan handuk. Kami duduk bersama-sama di jalan, dan kemudian saya masuk kembali dan menonton televisi. Kemudian ibu saya terburu-buru masuk dan mengatakan kami harus lari secepat mungkin ke mesjid karena air laut naik. Jadi saya lari melalui jalan-jalan dengan orang tua, kakak dan abang saya. Dimana-mana semua orang berlarian, ada sepeda motor yang bertabrakan dan sebagiannya terjatuh, dan para pengendara tidak peduli jika mereka melukai ataupun mencelakakan orang karena mereka hanya ingin menyelamatkan diri mereka saja. Tetapi air laut datang dan membawa semuanya – mayat-mayat, sampah, dan juga mobil dan sepeda motor. Ketika itu berakhir, kami pergi ke Taman Budaya dimana banyak orang yang terluka berkumpul disitu. Banyak sekali orang yang terluka disana, sebagian mereka tidak sadarkan diri, sebagiannya kesakitan, banyak yang mengalami pendarahan dan ada yang kehilangan kakinya. Banyak yang menangis meminta pertolongan, tetapi kelihatannya tidak ada orang yang melakukan apapun untuk mereka.
Edy Syaputra, anggota Marinir, 24 tahun, Cadek: Saya sedang berada di warung menikmati sarapan pagi dengan kawan-kawan saya ketika gempa bumi terjadi. Tiba-tiba ada orang yng berlari ke arah kami. Mereka mengatakan bahwa air laut mengering dan saya melihat bahwa sungai di dekat kami juga mengering. Saya memanjat ke dinding beton sebuah jembatan dan melihat ombak dari kejauhan seperti ular sendok yang membesar, lebih tinggi daripada pohon kelapa. Kawan saya menghidupkan sepeda motornya dan kami memacunya ke arah Krueng Cut, tetapi itu tidaklah bagus, karena setelah itu air memerangkap kami. Kemudian datang ombak yang kedua, yang menghanyutkan kami. Saya tidak merasakan ombak yang ketiga, tetapi ketika saya terapung saya melihat banyak orang yang bergantung pada suatu pohon yang besar yang tumbang. Saya juga melihat orang di tingkat kedua sebuah rumah besar. Mereka pada awalnya dapat bertahan pada saat ombak pertama datang, tetapi ketika ombak yang selanjutnya datang rumah itu hancur dan tergulung demikian juga dengan orang yang ada di dalamnya. Pada saat itu saya memutuskan untuk pasrah pada kehendak Tuhan karena saya kira itu adalah hari kehancuran. Saya berusaha untuk menggapai sebatang pohon kelapa, dan memegangnya erat-erat. Walaupun saya terluka, tetapi saya tidak merasakan apa-apa, dan saya terus bertahan disana, saat itulah saya melihat mayat-mayat dan mobil dan juga ketika melihat kapal terhanyutkan ke arah kota. Saya duduk di atas pohon yang tinggi sampai pukul dua siang dan kemudian ketika air, surut saya turun perlahan-lahan karena saya mulai kesakitan dengan luka di badan saya. Saya berjalan melalui air yang berlumpur dan terpaksa berjalan melalui mayat-mayat yang berada dimana-mana, saya tidak punya pilihan lain. Seorang anak kecil menjerit meminta tolong dan saya membawanya ke jembatan Lamnyong. Abang saya sangat terkejut ketika melihat saya, dia menyangka bahwa saya sudah meninggal. Tetapi bukan hanya saya yang beruntung, seluruh keluarga saya juga semuanya selamat. Semua pengalaman ini membuat saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya merasa saya ingin berbuat sesuatu untuk berterima kasih kepada-Nya, karena saya dapat bertahan dan heran untuk apa saya diselamatkan, saya berharap Dia dapat menunjukkan saya jalan. Tetapi saya berdoa agar ini tidak terjadi lagi.
Juriah, 36 tahun, Ibu rumah tangga, kota Sigli: Hari itu adalah hari Minggu, jadi saya sedang mencuci pakaian ketika seseorang datang dan mengatakan agar saya untuk berlari karena air laut sedang naik. Saya berkumpul dengan anak saya yang berumur 2 tahun dan kemudian kami lari, anak saya yang lainnya berlari di samping saya. Tetapi saya sebenarnya tidak tahu kemana saya harus lari untuk menghindar dari air laut. Gelombang tsunami menghantam kami dan kemudian kami terpisah satu sama lainnya. Saya berpegangan dengan anak saya, dan memeluknya erat, tetapi ombak menggulung kami ke bawah dan memisahkannya dari saya. Saya bergantung pada sebuah pohon mangga ketika reruntuhan rumah yang hancur dan mayat-mayat mengalir di dekat saya. Saya tetap mencari seluruh keluarga saya, tetapi saya tidak mendapatkannya. Setelah semuanya selesai, ada tentara yang menolong saya turun dari pohon, dan kemudian saya pergi ke rumah sakit. Suami saya ada di sana dan juga mayat dari dua anak saya yang telah meninggal. Tiga anak saya masih hilang. Kemudian kami menemukan juga jenazahnya, terhanyut ke belakang penjara. Dengan kekuasaan dan kasih sayang Tuhan, setidaknya saya masih dapat memeluknya sekali lagi sebelum menguburkan mereka. Rumah semua isinya tidak ada lagi. Tetapi saya tidak terlalu sedih. Kita dapat mencari kekayaan lagi tetapi anak-anak kami telah hilang untuk selamanya.
Dr. Arjuna, 30 tahun, Dokter, Teunom: Kami menyelamatkan diri dari air besar dan berusaha untuk sampai di gunung. Ada banyak orang di sana, tetapi kami tidak makan apa-apa pada hari pertama, kami hanya minum air dari sungai. Kami betul-betul terisolir di Teunom dan tidak dapat ditempuh baik dari darat ataupun laut. Pada akhirnya kami mendapatkan pertolongan setelah minggu ketiga ketika makanan dijatuhkan dari helikopter untuk kami. Tetapi perkelahian menghancurkan makanan tersebut, adalah sangat menyedihkan melihat kelakuan orang-orang dalam keadaan menyedihkan satu sama lain. Saya berada disana selama dua bulan sebelum saya kembali ke rumah untuk bergabung dan membantu orang-orang yang selamat. Tetapi rumah saya telah hancur menjadi puing-puing. Saya dan suami saya menggali lumpur dan berusaha untuk mendapatkan obat-obatan, tetapi kami hanya menemukan sanmol untuk diare. Hanya obat itulah yang kami miliki saat itu. Tujuh hari kemudian dokter tentara datang dan memberikan kami empat kotak obat-batan, dan saya membuka sebuah klinik di SD Pasie Teube. Kami melakukan apa yang kami mampu, tetapi adalah sangat sukar karena kami hanya mempunyai satu bidan dan satu perawat untuk menolong. Tetapi bantuan medis adalah tidak cukup, kami sangat sedih karena keterbatasan antibiotik dan multivitamin dah juga obat untuk anak-anak. Saya tidak menerima apa-apa dari dinas kesehatan pada saat itu, saya hanya mendapatkannya dari angkatan laut. Saya merasa sangat sedih karena tidak dapat menolong semua orang, setiap hari saya berharap bantuan obat-obatan akan datang.
Yusrizal, 23 tahun, Lulusan universitas, Aceh Jaya: Seluruh keluarga saya berkumpul di Banda Aceh untuk kenduri syukuran karena ibu saya berencana akan naik haji. Tentu saja gempa bumi telah merusakkan semuanya dan kami berlarian ke jalan. Ketika gempa selesai kami masuk kembali ke rumah. Tidak lama setelah itu, kami mendengar suara dari luar seperti suara badai dari laut, kemudian terdengar tiga ledakan seperti suara ban yang meletus. Saya keluar untuk mencari tahu tentang apa yang sedang terjadi dan saya mengira bahwa itu suara angin yang kuat, tetapi sebenarnya itu adalah suara dari ombak yang datang ke arah kami, itu kira-kira tingginya 20 meter. Saya memanggil seluruh keluarga saya dan kami semuanya lari, sebagian menggunakan becak, sepeda motor, tetapi sebagian besar kami berlari. Kami terpisah ketika ombak menghantam kami. Ombak yang pertama sangat gelap seperti malam hari dan itu menghancurkan rumah-rumah di sekitarnya, tetapi ombak yang kedua dengan mudah menghancurkan semua, meninggalkan daratan menjadi rata, seperti hari kiamat. Saya pernah mendengar dari orang-orang tua yang diambil dari Al qur an bahwa ini adalah merupakan salah satu tanda-tanda kiamat. Saya bertemu dengan keluarga saya di gunung, kami tidak mendapatkan apa-apa untuk dimakan selama tiga hari. Kami meminta tentara untuk menembak lembu dan kerbau karena kami kelaparan. Jadi kami sembelih ternak-ternak itu dan semua kami memakannya, demikian juga dengan tentara-tentara itu. Kemudian sebulan setelah itu bantuan datang. Kami mendapatkan satu kotak mie instan untuk setiap kepala keluarga, hanya itu yang kami dapatkan. Hanya pondasi saja yang tertinggal dari rumah kami. Kami sekarang harus memulai dari awal, demikian juga dengan orang-orang yang lain di sini.
Ali Hasymi. 40 tahun, Pegawai Negri Sipil, Pulau Simeulu: Hari itu merupakan hari libur, jadi saya berada di rumah ketika terjadinya gempa. Kami sudah pernah mengalaminya pada tahun 2002, yang telah dinyatakan sebagai musibah nasional, tetapi saya tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Ada cerita yang telah diturunkan dari orang tua dan nenek saya tentang tsunami pada tahun 1907, ombak yang besar terjadi berikutan setelah terjadinya gempa, tetapi bagi generasi saya itu hanyalah sebuah cerita. Jadi ketika terjadinya gempa itu bukanlah suatu hal yang luar biasa karena di Simeulu sering terjadinya gempa, Keluarga saya semuanya keluar, tetapi saya tetap berada di dalam. Kemudian saat saya mendengar mereka menjerit, secepatnya saya menuju pintu, tetapi pondasi telah bergerak dan juga menyebabkan kunci macet. Saya berusaha untuk membukanya dengan paksa dan melihat bahwa gempa ini adalah merupakan gempa yang sangat besar. Semua orang berlari ke arah gunung, karena kami telah tahu bahaya tsunami. Inilah mengapa hanya sedikit orang yang meninggal di pulau ini, walaupun kami sangat dekat dengan pusat gempa.
Zul Baili, 27 tahun, Supir truk, Simeulu: Keluarga saya tidak berada di Simeulu ketika peristiwa itu terjadi. Merka tinggal di Aceh Barat: nenek saya, istri dan anak saya tinggal disaba. Saya menghidupkan televisi dan saya ketakutan ketika melihat Banda Aceh dan Meulaboh telah hancur. Saya berharap keluarga saya selamat di Teunom Aceh Barat walaupun itu terletak kira-kira 2,5 km dari laut. Keesokan harinya saya berusaha untuk mencari mereka dengan menggunakan boat pencari ikan kawan saya. Ketika kita mendekati Ujong Karang, kami menemukan mayat-mayat terapung di air di sekitar kami. Kami mengambilnya sebanyak yang kami mampu dan kemudian menguburkannya, tetapi kami tidak mendapatkan ruang yang cukup di dalam boat untuk mereka, mayat-mayat begitu banyak di sekitar kami. Kemudian saya berjalan kaki dari Meulaboh ke Lambalek, itu memakan waktu dua hari. Orang-orang memberi makanan kepada saya, memberikan nasi dan tempat untuk berteduh dalam perjalanan ke sana. Sepanjang jalan saya teringatkan bayi dan istri saya, betapa gembiranya jika kami berkumpul dan berharap mereka semua selamat. Setelah tiga hari, saya sampai di Teunom. Orang-orang desa mengatakan bahwa keluarga saya ada di Pasie Teubee, tetapi dalam hati saya berkata tidak demikian, saya tahu mereka telah tiada, Saya merasa lemah dan gagal, tetapi saya menguatkan diri dan melanjutkan perjalanan. Ketika saya sampai disana, bapak mertua saya memberitahu saya berita sedih: “istri dan anak kamu telah tiada.” Saya tidak bisa menangis lagi. Saya berkata pada diri sendiri bahwa ini adalah kehendak Tuhan, dan saya harus menerima kehendaknya mulai dari sekarang. Tetapi kadang-kadang saya berharap saya juga mati, bagaimana saya dapat hidup tanpa mereka?
Sayed, 18 tahun, Rumah Sakit Tentara – Kesdam, Banda Aceh: Saya dihanyutkan ke sebuah jembatan di kota. Dimana-mana terlihat mayat dan orang yang sekarat. Saya berusaha menolong mereka, tetapi tidak banyak yang dapat saya perbuat. Kemudian saya pergi ke Merduati ke tempat tinggal saya untuk melihat keluarga saya. Rumah saya telah hilang, dan saya tidak dapat menemukan ibu saya. Tetapi saya menemukan bapak saya di rumah sakit kesdam. Dokter mengatakan bahwa dia baik-baik saja, walaupun dia tertelan lumpur hitam dari ombak tadi. Dokter memberikan obat merah dan memperbolehkannya pulang. Ada juga lelaki yang lain yang tertelan lumpur itu. Saya berbicara dengan dia, tetapi dia sanagat lemah. Keesokan harinya di tmpat pengungsian dimana kami sekarang tinggal, kesehatan bapak saya memburuk lagi, sehingga saya membawanya lagi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Ketika saya sampai disana, lelaki yang saya temui kemarin berada di luar di depan rumah sakit, dia telah meninggal dunia. Bapak saya juga meninggal pada hari itu juga. Sejak hari itu saya seperti orang kebingungan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, saya tidak lagi tinggal di tempat pengungsian. Kadang-kadang saya tinggal di tempat teman saya, terkadang saya tidur dimana saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya tidak tahu harus pergi kemana, tidak ada keluarga saya yang selamat: sepupu, makcik, bapak, ibu saya semuanya telah meninggal dunia. Saya sekarang ini sendirian di dunia ini. Saya tidak punya siapa-siapa lagi.
Ismail M. Syah, Kepala kantor cabang koran lokal Serambi Indonesia, Lhokseumawe: Saya melihat gempa bumi di Lhokseumawe, lalu gelombang datang. Saya tidak dapat mempercayai apa yang saya lihat, lalu saya ambil beberapa gambar – saya berfikir bahwa ini akan menjadi berita hangat bagi Serambi. Tetapi ketika saya menelpon kantor pusat Serambi di Banda Aceh untuk mengatakan pada mereka bahwa saya punya berita yang sangat bagus, ternyata jaringan telepon terputus, jadi saya pikir berita yang telah saya tulis ini sangatlah penting dan akan menjadi berita utama, dan sangatlah penting bagi Serambi untuk mencetaknya. Saya memutuskan untuk mengantar sendiri ke Banda Aceh. Saya pergi kesana dengan kawan saya, tetapi ketika kami telah berada sekitar lima jam dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami bisa melihat kehancuran yang melanda dimana tidak hanya ditempat kami itu terjadi, tetapi dibanyak tempat lain di Aceh. Kami melihat orang-orang yang hilir-mudik, rumah mereka telah hancur dan tenggelam. Kami tiba di Banda Aceh pada pukul 10 malam, saat itu sangatlah gelap sehingga tidak bisa melihat apa-apa. Saya sangat takut, ini seperti kota hantu. Tidak ada cahaya lampu dimana-mana, semuanya gelap gulita. Tetapi dari apa yang terjadi saya tahu bahwa banyak yang telah berubah di kota tersebut. Perjalanan ke Serambi sangatlah mengerikan: manyat dan puing-puing serta sampah ada dimana-mana, banyak orang yang terluka yang berputar-putar atau duduk. Kami bisa melihat bahwa kantor Serambi juga terkena musibah, tetapi kurang jelas. Saya kembali pada pagi harinya untuk melihat tingkat kerusakan kantor. Saya sangat terkejut ketika melihat bangunan yang berdiri didepan saya mengalami kerusakan yang sangat parah, tetapi saya lebih khawatir lagi teman-teman saya yang bekerja disana. Perjalanan saya berakhir disana. Saya masih membawa berita halaman depan, tetapi tidak dicetak di Serambi Indonesia. Hanya kesunyian yang menyambut saya ketika memasuki kantor: kesunyian dan hantu dari kawan-kawan saya yang telah ditelan oleh tsunami ketempat yang belum diketahui.
Cerita-cerita di atas adalah merupakan kesaksian dari orang-orang yang selamat dari suatu bencana yang sangat berat untuk dipahami kecuali anda mempunyai pengalaman yang sama dengan itu. Kenyataan yang menyedihkan dari suatu kekuatan yang besar dimana tidak ada apapun yang bisa kita lakukan tetapi harapan untuk hidup, mengingatkan kita betapa lemahnya kita, betapa sangat lemahnya penguasaan kita tentang kejadian alam di sekitar kita dimana kita menerimanya sebagaimana adanya, dan betapa eratnya persahabatan, kekeluargaan dan kasih sayang adalah sangat perlu diperhitungkan. Sebagai salah satu kontributor di dalam buku ini dengan pedih menyatakan “Rumah dan semua harta benda saya sudah tak ada. Tetapi apa yang saya pedulikan? Kita bisa mencari kekayaan kembali, tetapi anak-anak kami semua telah pergi untuk selamanya”.
Di dalam dunia ini dimana materialisme yang semakin meningkat dimana nilai seseorang sering diukur dengan mobil apa yang mereka kendarai, pakaian apa yang mereka pakai, atau dimana mereka tinggal; pengaruh-pengaruh di dalam buku ini menjelaskan apa sebenarnya yang paling penting di dalam hidup kita, dan kenapa suatu bencana kadang-kadang dapat menyatukan seluruh dunia dalam suatu duka cita yang dirasakan menyeluruh yang mengenalinya dengan ikatan dalam penderitaan manusia. Rasa kemanusiaan dan pemberian derma untuk dampak buruk dari bencana Samudera Hindia ini membuat kita sadar kita semuanya mempunyai lebih dari yang kita pahami selama ini. Pada hari dimana sebagian kita mempercayai seakan-akan bumi akan runtuh, dan telah meninggalkan begitu banyak anak yatim yang sedang mencari permulaan yang baru, marilah kita dengar suara mereka dan hal ini akan membantu kita untuk memahami betapa pengasihnya kita semua, bagaimana dengan tanpa memperhatikan ras kita, kepercayaan, agama dan aliran politik, kita semua dibangun oleh kondisi kemanusiaan yang sama dan bagaimana setiap kehidupan individu adalah unik dan berharga.
Berjuta-juta dollar ‘industri bantuan’ telah mengalir ke Aceh sejak peristiwa yang menyedihkan pada tanggal 26 Desember 2004, yang meningkatkan perolehan keuangan dan material bagi banyak orang. Aceh telah menjadi tanah harapan: karena persaingan yang sengit terhadap sejumlah kontrak yang menguntungkan dari proyek rekonstruksi antara perusahaan, LSM dan juga yang lainnya menjadi lebih jelas, dan sebagai pekerja penolong asing datang ke Aceh dengan menikmati gaji dan keuntungan yang membumbung. Puluhan ribu orang masih masih berada ditenda-tenda pengungsian, dan ratusan ribu orang dengan hati yang terluka meratapi saudara-saudara mereka yang telah hilang. Tragedi kemanusiaan yang menyedihkan yang terjadi beberapa bulan yang lalu sepertinya telah terlupakan seiring dengan terbukanya ‘kesempatan’ dan menyalakan api kerakusan bagi kekuasaan dan uang di Aceh. Tanah Aceh ini adalah milik mereka yang telah kembali ke tanah; kesaksian-kesaksian mereka adalah cerita-cerita dari mereka yang selamat yang menyaksikan menit-menit terakhir mereka ketika disapu oleh kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Jakarta, 8/9/2005: Pengurus Pusat Persatuan Purnawirawan TNI-Angkatan Darat (PPAD) menolak nota kesepahaman antara Pemerintah RI dengan Gerakan Separatis Aceh (GAM). Sikap tegas PPAD itu dituangkan dalam surat yang dialamatkan kepada Ketua DPR, Ketua MPR dan Ketua DPD bernomor B/ 38 / VIII /PPAD/2005 tertanggal 17 Agustus 2005. Surat yang ditandatangani Ketua Umum Letjen TNI (Purn) Soeryadi dan Sekretaris Umum Mayjen TNI (Purn) Soetoyo NK, itu dilampiri tiga bundel.
Dalam surat yang juga dikirim ke Redaksi Tokoh Indonesia, itu PPAD menegaskan enam pendapat.
Pertama, nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Separatis Aceh GAM merupakan tahap lanjutan suatu skenario besar kekuatan asing untuk memecah belah kedaulatan NKRI setelah berhasil merubah total UUD 1945 menjadi UUD 2002.
Dengan demikian nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Separatis Aceh GAM, digunakan sebagai taktik dari Gerakan Separatis Aceh GAM merubah pola perjuangannya dari gerakan bersenjata di dalam negeri menjadi gerakan politik dengan melibatkan pihak asing atau internasional.
Kedua, para perunding Pemerintah Indonesia tidak menempatkan diri, sebagai Wakil Pemerintah dan bangsa Indonesia, sebaliknya lebih memperjuangkan kepentingan Gerakan Separatis Aceh GAM, sehingga isi nota kesepahaman tersirat dan terkesan sebagai hasil perundingan "Internal GAM".
Ketiga, dari sudut bahasa nota kesepahaman dibuat dalam bahasa asing/Inggris sehingga bertentangan dengan UUD karena menurut UUD; bahasa negara adalah bahasa Indonesia, dan penjelasan Pemerintah Indonesia menyebutkan bahwa perundingan tersebut antara pemerintah Indonesia dengan bangsa Indonesia sendiri, sehingga tidak memerlukan persetujuan DPR. Mengapa harus menggunakan bahasa asing?
Keempat, menghadapi reaksi masyarakat, Pemerintah Indonesia melalui para perundingnya secara arogan menyebut mereka yang mengkritisi pola kesepahaman sebagai "anti perdamaian".
Bagi PPAD perdamaian penting namun kedaulatan, keutuhan dan kemerdekaan NKRI diatas segala-galanya, PPAD tidak menginginkan perdamaian seperti di Yugoslavia, dengan mengorbankan kedaulatan, keutuhan dan kemerdekaannya.
Kita perlu mewaspadai sepak terjang Peter Feith sebagai Ketua AMM di Aceh, mengingat yang bersangkutan adalah bekas penasehat Solana (WN Portugal) Ketua Tim Perdamaian di Balkan yang berhasil memecah belah Yugoslavia dengan “dalih perdamaian".
Kelima, secara arogan para perunding Pemerintah Indonesia menyatakan
bahwa ..tunjukkan kalau isi nota kesepahaman bertentangan dengan UUD maupun UU, padahal secara sepintas orang awam mengetahui bahwa banyak isi nota kesepahaman yang bertentangan dengan UUD maupun UU.
Keenam, nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Separatis Aceh GAM secara mutlak harus ditolak dan dibatalkan.
Saran PPAD
Sehubungan dengan itu PPAD menyampaikan lima saran yakni: Pertama, Mahkamah Konstitusi, DPR-RI, MPR-RI serta DPD sesuai kewenangan dan tanggung jawabnya segera mengambil inisiatif untuk mengkaji, meneliti dari aspek politis, proses maupun isi serta membatalkan sekaligus memperbaiki isi nota kesepahaman dengan mengacu sepenuhnya kepada UUD serta peraturan perundang- undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga perdamaian tetap dikedepankan tanpa mengambil resiko yang merugikan kedaulatan, keutuhan dan kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia.
Kedua, mengingat isi nota kesepahaman sengaja disembunyikan oleh Pemerintah Indonesia kepada rakyat Indonesia, sudah saatnya para Pemimpin Partai yang memiliki jaringan massa, segera mensosialisasikan isi nota kesepahaman tersebut agar seluruh rakyat bangsa Indonesia mengerti dan memahami sekaligus mendesak wakilnya dilembaga legislatif untuk membatalkan nota kesepahaman tersebut. Ketua Partai segera mengkonsolidasikan fraksi-fraksinya di DPR-RI untuk segera mengkaji dan meneliti semua aspek tersebut dan membatalkan sekaligus memperbaiki nota kesepahaman.
Ketiga, Pemerintah Indonesia harus berani mengambil inisiatif merubah isi kesepahaman dengan menempatkan Pemerintah Indonesia pada pihak yang memiliki kata akhir dan hak veto, bukan pihak asing dalam hal ini Crisis Management Inisiative.
Keempat, Menteri Dalam Negeri harus berani mengambil inisiatif untuk mengambil langkah tekanan agar Gerakan Separatis Aceh GAM dan pihak asing, tidak memperoleh ruang dan peluang untuk melepaskan Aceh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kelima, TNI sebagai alat negara melalui Panglima TNI, harus bersikap jelas dan tegas sesuai Sapta Marga dengan langkah dan tindakan kongkrit terhadap pihak manapun yang berusaha memanfaatkan “perdamaian" untuk menggoyahkan dan merusak sendi kedaulatan, keutuhan dan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk melengkapi saran pendapatnya ini, PPAD melampirkan ikhtisar dan tinjauan kritis serta pendapat anggota PPAD sebagai bahan pengkajian lebih lanjut.
Perjuangan NKRI
Pada bagian awal surat yang ditegaskan bahwa PPAD sangat mendukung upaya perdamaian dalam mengatasi konflik di Aceh dan tempat lain di bumi Nusantara ini, dengan catatan "tidak mengorbankan keutuhan, kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia".
Diuraikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia diperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatannya melalui proses yang panjang, berliku disertai pengorbanan harta benda dan nyawa anak bangsa dalam jumlah yang tidak terhingga.
Semenjak generasi perintis kemerdekaan tahun 1908, melalui Boedi Oetomo, generasi pejuang kemerdekaan melalui Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, generasi pembela kemerdekaan melalui perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949, serta generasi penerus kemerdekaan yang konsisten menjaga keutuhan negeri ini dengan mencegah dan menggagalkan berbagai gerakan dan pemberontakan yang berupaya memecah belah kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini seperti: pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo tahun 1949, pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar dan Daud Beureuh tahun 1952, pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958 serta pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965.
Sejarah mencatat bagaimana Bung Karno diera kemerdekaan berjuang keras merebut kembali Irian Barat dari tangan penjajah Belanda serta bagaimana pak Harto berhasil mengintegrasikan Timor- Timur menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Demi kebesaran dan kejayaan negara dan bangsanya, mantan Presiden pertama dan kedua tersebut tidak pernah memberi ruang dan peluang kepada gerakan separatis untuk memecah belah negeri ini.
Di era reformasi, Presiden Republik Indonesia Prof. BJ. Habibie memerdekakan Timor- Timur melalui jajak pendapat yang tidak dipersiapkan untuk menang dan saat ini beliau hidup enak diluar negeri tanpa merasa “berdosa" kepada bangsa dan negara Indonesia atas keputusan politik yang telah diambilnya. Demikian halnya dengan Pulau Sipadan dan Ligitan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia karena Pemerintah Indonesia tidak berupaya keras untuk memenangkannya di Mahkamah Internasional.
Pada tanggal 15 Agustus 2005, kita dikejutkan oleh nota kesepahaman dengan Gerakan Separatis Aceh yang oleh Pemerintah Indonesia diakui secara resmi bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Di era reformasi, sekali lagi Pemerintah Indonesia bermain-main dengan kedaulatan, kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Beberapa Aspek
Lebih lanjut dalam surat PPAD itu diuraikan bahwa mendalami nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Separatis Aceh GAM, dapat ditinjau dari beberapa aspek:
Pertama, aspek politis: Secara resmi dan syah, nota kesepahaman tersebut merupakan keputusan politik Pemerintah Indonesia, sehingga sepenuhnya merupakan tanggung jawab Pemerintah dan secara konstitusionil menjadi tanggung jawab Presiden Republik Indonesia.
Kedua, aspek proses: Secara jelas dan faktual proses perundingan sampai menghasilkan nota kesepahaman dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia secara tertutup, tanpa diberitahukan kepada rakyat dan bangsanya sendiri, namun tidak tertutup bagi pihak asing maupun Gerakan Separatis Aceh GAM.
Ketiga, aspek isi: Membaca, mempelajari dan mendalami isi Nota Kesepahaman yang isinya sengaja disembunyikan atau tidak diberitahukan kepada rakyat dan bangsa Indonesia sebelum ditanda tangani, menunjukkan bagaimana Pemerintah Indonesia bermain-main dengan kedaulatan Negara dan Bangsa sekaligus membodohi rakyat dan bangsa sendiri.
Kedaulatan Dipermainkan
Bagaimana kedaulatan dipermainkan, secara sepintas apabila orang awam membaca isi nota kesepahaman tersebut, akan berkesimpulan bahwa:
Pertama, dengan menyebut Gerakan Aceh Merdeka, Pemerintah Indonesia secara resmi dan syah mengakui keberadaan dengan segala kewenangannya organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekaligus menyetarakan GAM setingkat dengan sebuah negara.
Kedua, Pemerintah Indonesia secara jelas menyebut Pemerintah Aceh tidak dengan sebutan Pemerintah Propinsi NAD yang sekaligus menempatkan diri dibawah kendali Pemerintah Aceh, karena Pemerintah Indonesia berada pada pihak yang berkewajiban tanpa memiliki hak, sedangkan yang disebut Pemerintah Aceh berada pada pihak yang berwenang dan memiliki hak.
Ketiga, Pemerintah Indonesia secara tegas menempatkan dan mengakui secara syah bahwa Gerakan Separatis Aceh GAM sebagai pihak yang secara mutlak mewakili seluruh rakyat Propinsi NAD sehingga menempatkan sebagian besar rakyat Aceh yang tidak sepaham dengan GAM dalam kegelisahan dan kerisauan sekaligus bahaya.
Keempat, Secara sadar dan sengaja Pemerintah Indonesia memberikan konsesi yang luar biasa kepada Gerakan Separatis Aceh GAM meskipun bertentangan dengan UUD dan berbagai perundangan yang berlaku.
Kelima, secara sadar dan sengaja Pemerintah Indonesia telah menginternasionalkan masalah Aceh dengan memberikan konsesi politik yang demikian besar kepada AMM (Aceh Monitoring Mission) sebagai organisasi asing termasuk kata akhir yang berada pada Ketua Dewan Direktur Crisis Management Inisiative. Seharusnya kata akhir berada pada Pemerintah Indonesia yang memiliki kedaulatan atas Propinsi NAD .
Demikian surat kami untuk menjadikan perhatian yang sungguh-sungguh dan terima kasih atas segala perhatiannya. Merdeka! Hidup NKRI. Tertanda Ketua Umum Letjen TNI (Purn) Soeryadi dan Sekretaris Umum Mayjen TNI (Purn) Soetoyo NK. *ti/tsl
Dua dekad kebelakangan ini, konsep 'Keganasan Islam' (Islamic Terror) menjadi topik perbincangan yang hangat. Selepas serangan 11 September yang menjadikan ribuan orang yang tidak bersalah di New York dan Washington sebagai sasaran, konsep ini bangkit semula menjadi agenda antarabangsa.
Sebagai seorang Islam, kita setentunya mengutuk perbuatan ini dan merakamkan ucapan takziah kepada rakyat Amerika.
Tulisan ini akan menekankan bahawa Islam bukanlah punca kepada segala keganasan malah keganasan tidak ada tempatnya di dalam Islam. Sungguhpun perampas kapal terbang itu disyaki sebagai seorang Islam tetapi itu tidak bermakna jenayah yang dilakukan itu dilabelkan sebagai 'Keganasan Islam'. Begitu juga tidaklah dinamakan 'Keganasan Yahudi' jika penjenayah itu adalah penganut Yahudi serta bukanlah 'Keganasan Kristian' walaupun penjenayah itu Kristian.
Ini kerana, membunuh orang yang tidak berdosa atas nama agama adalah salah sama sekali. Seperti yang sedia maklum bahawa mereka yang terbunuh di Washington atau New York merupakan orang yang beriman dengan Jesus (Kristian), Nabi Musa (Yahudi) dan orang Islam. Menurut Islam, membunuh orang yang tidak bersalah menjadi satu kesalahan yang besar dan azab neraka adalah paling layak baginya kecuali diampunkan Allah. Justeru, adalah mustahil orang yang beriman terjebak dalam perkara yang tidak diredhai ini.
Apa yang jelas ialah penjenayah-penjenayah itu sebenarnya telah merosakkan nama agama sendiri. Mereka sebenarnya telah menyebabkan sesebuah agama itu dipandang jahat di mata orang dan telah menanam rasa kebencian kepada mereka yang soleh. Akibatnya, setiap serangan yang dikatakan mewakili 'agama' sebenarnya secara tidak langsung 'memerangi' agama mereka sendiri.
Kesemua tiga agama samawi menganjurkan kasih sayang, belas dan keamanan. Keganasan jelas amat kontra dengan agama kerana ia ganas, sadis, sengsara dan menumpahkan darah. Oleh hal yang demikian, ketika menyelidiki latar belakang seorang pengganas itu mestilah diperiksa kepercayaannya bukan agamanya. Orang yang berlatarbelakang fascist, communist, racist atau materialist merupakan antara yang berpotensi menjadi penjenayah. Nama atau identiti pemetik picu tidaklah penting kerana jika mereka boleh membunuh orang yang tidak bersalah dengan memejam mata, itu tidak patut dilabelkan sebagai seorang yang beragama tetapi layak yang sebaliknya. Mereka menyerang tanpa rasa takut kepada tuhan kerana gila untuk menumpahkan darah dan melakukan kerosakan.
Berdasarkan itulah, 'Keganasan Islam' amat tidak cocok dengan ajaran Islam. Lebih-lebih lagi Islam tidak bersetuju langsung dengan keganasan malah mencegah keganasan dengan menganjurkan keamanan dan kesejahteraan ke serata alam.
Al-Quran Menganjurkan Kebaikan, Keadilan dan Keamanan
Jika dikaji dengan terperinci dapat disimpulkan bahawa keganasan itu dilakukan seseorang bagi mengejar target dalam agenda politiknya. Dalam erti kata lain, mangsa keganasan bukanlah sasaran utama tetapi yang sebenarnya ditujukan kepada pihak lain. Perbuatan keji yang dilakukan Hitler dan Stalin menjadi contoh yang tepat dan sememangnya bertentangan dengan moral keadilan manusia.
Al-Quran diturunkan untuk memandu manusia menurut kebenaran dan Allah memerintah hamba-Nya supaya mengadaptasikan akhlak dalam kehidupan. Akhlak yang merangkumi cinta, belas kasihan, toleransi, dan keamanan boleh diamalkan ke seluruh dunia:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam keamanan (Islam) secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Surah al-Baqarah: 208)
Ajaran dari Al-Quran yang diimani orang Islam bukan sahaja menjadi panduan hidup mereka tetapi sesuai juga untuk bukan Islam kerana isi kandungannya mencakupi keadilan, memelihara orang yang memerlukan dan bersalah serta mencegah dari segala kerosakan. Allah juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan. (Surah al-Qasas: 77)
Membunuh seseorang tanpa sebab yang diterima merupakan salah satu contoh kerosakan. Allah mengulangi di dalam Al-Quran seperti yang pernah diungkapkan kepada Yahudi di dalam Old Testament:
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahawa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan kerana orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kerana membuat kerosakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam membuat kerosakan di muka bumi. (Surah al-Maidah: 32)
Jelas diperkatakan bahawa membunuh seseorang kecuali jika orang itu membuat kekacauan di muka bumi adalah satu jenayah yang diibaratkan seperti membunuh manusia seluruh alam. Begitu juga dengan kes yang membunuh manusia beramai-ramai dengan cara serangan membunuh diri (suicide attacks) juga terlibat sekali. Allah memberitahu kita akan balasan di akhirat bagi mereka yang sekejam ini:
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (Surah ash-Shura: 42)
Justeru, bagaimana boleh timbul satu tema 'Keganasan Islam'? Dari apa yang dijelaskan adalah mustahil jika dikaitkan Islam dengan keganasan. Apa yang jelas di sini ialah punca keganasan bukanlah dari agama tetapi dari faktor fenomena sosial.
Tentera Salib: Manusia Tidak Bertamadun Yang Menginjak Agamanya Sendiri
Isi kandungan agama yang benar atau sistem kepercayaan adakalanya boleh diseleweng oleh penganutnya yang palsu (pseudo-adherents). Contoh yang tepat boleh dilihat ketika zaman kegelapan dalam sejarah Kristian yang diputarbelitkan oleh tentera perang salib.
Tentera salib yang terdiri dari penganut Kristian Eropah yang bermatlamat untuk menjajah Holy Land (Palestin) dari tangan orang Islam di akhir abad ke-11 sebenarnya dikatakan berjuang atas nama agama. Tetapi mereka telah memanipulasi pengikutnya dengan memasuki tanah itu dengan keganasan dan kekejaman. Orang ramai yang tidak bersalah menjadi mangsa pembunuhan dan banyak kampung dan kota diceroboh.
Jerusalem yang menjadi kediaman orang Islam, Yahudi dan Kristian di bawah pentadbiran Islam yang aman telah bertukar menjadi medan pertumpahan darah yang amat dahsyat. Kekejaman mereka tidak berhenti setakat itu sahaja malah kota Istanbul yang merupakan kota Kristian juga diceroboh dan habis emas permata dicuri dari gereja-gereja.
Tanpa disangkal bahawa keganasan ini amat bertentangan dengan ajaran Kristian kerana agama Kristian yang dimaksudkan Bible ialah 'Gospel of Love'. Di dalamnya menurut Matthew, Jesus mengatakan, "Kasihilah musuh kamu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" kepada penganutnya (Matthew, 5/44). Menurut Luke pula, Jesus mengungkapkan "Jika seseorang memukul pipi kamu, balaslah dengan cara yang lain" (Luke, 6/29). Di dalam bahagian New Testament pula tidak ada langsung rujukan yang melegitimasi keganasan.
Yang menjadi persoalan ialah jika Kristian adalah agama yang berteraskan kasih sayang, bagaimana boleh terjadi peristiwa berdarah yang dilakukan tentera salib? Punca utama berlaku sedemikian ialah kerana tentera salib itu dibentuk dari mereka yang jahil tentang agama, yang tidak pernah membaca atau melihat Bible sepanjang hayat atau mereka yang tidak menghayati ajaran yang terkandung di dalam Bible. Mereka dihimpunkan menjadi tentera salib di bawah slogan "God wills it".
Mengikut sejarah, pada zaman itu kehidupan penganut Kristian di Timur lebih bertamadun jika dibandingkan dengan Kristian di Barat. Cuma selepas peristiwa berdarah itulah barulah Kristian Ortodoks mengambil pendekatan untuk hidup bersama orang Islam. Menurut Terry Johns, pengulas BBC, dengan berakhirnya perang salib di timur tengah 'telah mewujudkan kehidupan bertamadun dengan gabungan tiga agama di bawah satu bumbung keamanan'. Nyata bahawa tentera salib itu bukanlah penganut sejati Kristian tetapi mereka terdiri dari orang yang jahil dalam segala ilmu lalu dipergunakan untuk menjayakan sesuatu ideologi walaupun tidak wujud langsung sebarang kepentingan ideologi itu dalam agama. Kekejaman Khmer Rouge di Kemboja menjadi contoh kerana terpengaruh dengan ideologi komunis yang cenderung kepada keganasan. Sebabnya juga kerana mereka terdiri dari orang yang jahil. Mereka yang jahil ini sebenarnya keliru dengan tujuan keganasan yang kononnya digunakan untuk membanteras keganasan (atau untuk agama).
Sifat Orang Badwi di dalam Al-Quran
Pada zaman Nabi Muhammad (s.a.w) wujud dua bentuk penempatan di tanah Arab iaitu penduduk kota dan badwi (gurun Arab). Mereka yang tinggal di kota banyak terdedah dengan dunia luar dan kehidupan mereka lebih bertamadun. Kehidupan mereka penuh dengan nilai-nilai murni selain membudayakan hidup dengan kesusasteraan terutamanya puisi. Berbeza dengan mereka yang mendiami di gurun yang hidup berpindah randah (nomad) dengan nilai kebudayaan yang carca merba. Kesenian dan kesusasteraan langsung tidak dipedulikan menyebabkan mereka membangun tanpa nilai murni dan sifat yang luhur.
Islam yang mula berkembang di Mekah merupakan kota yang penting di semenanjung Arab. Justeru, ramailah yang memeluk Islam dan penduduk di gurun juga tidak ketinggalan memeluknya. Setelah itu timbul masalah kerana penghuni gurun ini mundur dari segi kebudayaan dan intelektual yang menghalang mereka memahami dan mendalami Islam sepenuh jiwa. Allah menyatakan hal ini di dalam Al-Quran:
Orang-orang Arab Badwi itu, lebih banyak kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Surah at-Taubah: 97)
Nyatalah bahawa orang badwi itu merupakan kumpulan yang terdiri dari orang yang kufur yang munafiq serta cenderung untuk mengengkari perintah tuhan. Di dalam zaman nabi sendiri orang-orang sebegini menjadi petulang di dalam dunia Islam. Contohnya seperti golongan 'Kharijiyyah' yang jelas bersifat luar tatasusila kerana mereka merupakan kelompok yang keluar dan memberontak dari golongan Syiah. Golongan fanatik, liar dan ekstrem ini mendakwa diri mereka Islam walaupun tidak memahami Islam sepenuhnya selain menyeleweng isi Al-Quran untuk memerangi orang Islam sendiri. Saidina Ali yang merupakan sahabat paling rapat dengan nabi sehingga diiktiraf 'pintu segala ilmu' juga dibunuh angkara aktiviti ganas golongan kharijiyyah ini.
Telah terbukti bahawa tentera salib mengganas setelah ajaran Kristian diseleweng dan disalahtafsirkan, begitu juga dengan puak-puak yang mengkhianat Islam semata-mata untuk menghalalkan keganasan. Apa yang sama antara tentera salib dan orang badwi ini ialah mereka jahil, tidak faham, kurang didikan, liar dan terpencil dari umum. Keganasan yang dilakukan mereka berpunca dari struktur sosial bukannya agama yang menuntut melakukannya.
Hari ini, dunia Barat telah menyalahertikan fungsi organisasi atau pertubuhan Islam di seluruh dunia. Bagi mereka semua organisasi atau pertubuhan itu merupakan pendukung kepada kegiatan keganasan. Persepsi ini perlu diubah walaupun terdapat badan pengadilan yang boleh membuktikan kesahihan dakwaan itu. Yang penting ialah langkah jangka masa panjang perlu dirangka supaya dapat menyelesaikan permasalahan ini.
Dunia Barat terutamanya Amerika yang mempunyai kuasa majoriti di dunia tidak patut mempergunakan kuasa itu untuk memerangi Islam atau orang Islam tetapi sebaik-baik dipergunakan untuk memberi khidmat bagi menyantuni keperluan dunia Islam. Teori 'benturan peradaban' (clash of civilization) yang menjadi doktrin bermula 90an ini sewajarnya dilenyapkan.
Dalam masa yang sama, umat Islam diseru bersatu bagi menyebarluaskan maklumat tentang Islam yang menganjurkan kasih sayang, persaudaraan, keamanan dan kesejahteraan. Sebarang informasi yang salah boleh menimbulkan perbalahan dan menyemai semangat radikal. Selain itu, umat Islam seharusnya menonjolkan akhlak-akhlak mulia yang ditonjolkan Al-Quran.
Dari penjelasan di atas dapat difahami bahawa punca keganasan ialah kesempitan fikiran dan setentunya pendidikan merupakan jalan keluar baginya. Orang yang kesal dengan keganasan dan yang mengatakan keganasan hanya menghancurkan dan merosakkan Islam dan seluruh masyarakat seharusnya mengambil inisiatif untuk mencari alternatif mendidik masyarakat bagi membendung keganasan.
Harapan semua orang supaya dapat menyelamatkan dunia dari segala keganasan, huru-hara dan kekejaman patut diberi perhatian. Amerika Syarikat yang didominasi oleh populasi Kristian yang mendakwa negaranya 'a nation under God' sebenarnya mempunyai perkaitan rapat dengan orang Islam. Allah juga mengatakan penganut Kristian sebagai "...paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". (Surah al-Maidah: 82).
Dalam sejarah, orang yang jahil (tentera salib dan orang badwi) sebenarnya tidak memahami fakta sebenar sehingga menimbulkan perbalahan antara dua agama yang besar ini. Supaya kejadian ini tidak berulang, penganut Kristian dan Islam sepatutnya duduk semeja untuk saling bekerjasama. Duduk semeja bukan untuk mencari siapa salah tetapi bermusyawarah menghasilkan penyelesai masalah agar tidaklah lagi agama dikaitkan dengan sebarang keganasan. Susu sebelanga akan dibuang sekiranya dimasuki walau hanya setitik nila!
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka telah menandatangani kesepakatan damai pada tanggal 15 Agustus, setelah melalui proses negosiasi yang difasilitasi oleh CMI dan Ketuanya, President Ahtisaari.
Nota Kesepahaman yang dibuat mencakup topik-topik: penyelenggaraan pemerintahan di Aceh (termasuk Undang Undang tentang penyelenggaraan pemerintahan di Aceh, partisipasi politik, ekonomi dan peraturan perundang-undangan), hak asasi manusia, amnesti dan reintegrasi ke dalam masyarakat, pengaturan keamanan, pembentukan Misi Monitoring Aceh, serta penyelesaian perselisihan. Pemerintah Indonesia telah mengundang Uni Eropa dan sejumlah negara ASEAN untuk ikut serta dalam tugas-tugas Misi Monitoring Aceh ini.
Kesepakatan ini akan menghasilkan perkembangan penting di Aceh, antara lain Pemerintah Indonesia akan menarik kekuatan polisi dan tentara non-organik di Aceh dan memfasilitasi pembentukan partai politik yang berbasis di Aceh. Gerakan Aceh Merdeka akan melakukan decommissioning semua persenjataan dan demobilisasi pasukan dalam proses yang paralel dengan penarikan tentara dan polisi non-organik.
Kesepakatan ini juga merencanakan pembuatan ketentuan hukum baru bagi penyelenggaraan pemerintahan di Aceh, pemberian amnesti kepada anggota GAM dan tahanan politik, reintegrasi mantan pasukan ke dalam masyarakat, pendirian pengadilan hak asasi manusia dan komisi kebenaran dan rekonsiliasi terhadap Aceh, serta pembentukan Misi Monitoring Aceh (AMM/Aceh Monitoring Mission) oleh Uni Eropa dan lima negara ASEAN yang ikut serta, untuk memantau pelaksanaan kesepakatan ini.
Dalam pernyataan bersama setelah lima kali bernegosiasi, kedua belah pihak menyatakan bahwa mereka “memastikan komitmen pada solusi yang damai, komprehensif serta berkesinambungan terhadap konflik di Aceh dengan asas saling menghormati bagi semua pihak. Kedua pihak berkomitmen untuk menciptakan kondisi dimana pemerintahan terhadap rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui proses yang adil dan demokratis di dalam negara kesatuan dan Undang Undang Republik Indonesia. Kedua belah pihak sangat yakin bahwa penyelesaian konflik secara damai akan memungkinkan pembangunan kembali Aceh setelah bencana tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 dapat terus berlangsung dan sukses. Kedua belah pihak dalam konflik ini berkomitmen untuk membangun saling kepercayaan dan keyakinan.”
Crisis Management Initiative yang diketuai oleh Chairman President Ahtisaari, telah diminta untuk memfasilitasi pembicaraan antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Pembicaraan putaran pertama, yang merupakan pertemuan langsung pertama antara kedua belah pihak setelah Mei 2003, dilangsungkan pada tanggal 27-29 Januari 2005 di Helsinki. Pembicaraan putaran kedua dilangsungkan pada tanggal 21-23 Februari, putaran ketiga pada tanggal 12-16 April, sedangkan putaran keempat pada tanggal 26-21 Mei. Di antara putaran keempat dan kelima, CMI mempersiapkan sebuah rancangan Nota Kesepahaman, yang disusun berdasarkan pembahasan selama putaran kelima. Putaran negosiasi yang kelima ini dilangsungkan mulai dari 12 sampai 17 Juli.
Propinsi Aceh di Indonesia telah mengalami berbagai episode konflik sejak berdirinya Republik Indonesia. Gerakan Aceh Merdeka mulai muncul pada tahun 1976. Proses negoasiasi sebelumnya untuk mengakhiri konflik ini, difasilitasi oleh sebuah LSM Swiss bernama Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue (HDC), dan menghasilkan gencatan senjata (“Gencatan Senjata Demi Kemanusiaan”) di tahun 2000 dan ditandatanganinya Kesepakatan Penghentian Permusuhan di bulan Desember 2002. Proses ini terhenti di bulan Mei 2003, dan pembicaraan yang dipimpin oleh CMI di bulan Januari 2005 adalah yang pertama kali sejak saat itu.
Proses negosiasi ini difasilitasi dengan dukungan finansial dari Komisi Eropa dan Pemerintah Belanda serta dukungan finansial dan dukungan dalam bentuk natura dari Pemerintah Finlandia.
Perkembangan terbaru
15 Agustus 2005 Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani kesepakatan damai di Helsinki
12-17 Juli 2005 Crisis Management Initiative memfasilitasi putaran pembicaraan kelima, dan kedua belah pihak sepakat akan isi dari Nota Kesepahaman yang akan ditandatangani secara resmi pada tanggal 15 Agustus 2005.
26-31 Mei 2005 Crisis Management Initiative memfasilitasi putaran pembicaraan keempat.
12-16 April 2005 Crisis Management Initiative memfasilitasi putaran pembicaraan ketiga.
21-23 Februari 2005 Crisis Management Initiative memfasilitasi putaran pembicaraan kedua di luar Helsinki.
27-29 Januari 2005 Crisis Management Initiative memfasilitasi pembicaraan informal pertama antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka setelah terjadinya bencana tsunami tanggal 26 Desember 2004.
BENNY JA dengan percaya diri mengorbitkan Presiden Yudhoyono-Wapres Kalla sebagai calon pemenang Hadiah Nobel 2005 karena terobosan perdamaian Aceh Sabtu, 16 Juli. Sementara seorang pendukung GAM yang bermukim di Swedia dalam website-nya menguraikan 13 butir kemenangan GAM, di balik persetujuan 6 pasal yang perinciannya baru akan diumumkan 15 Agustus 2005.
Salah satu arsitek Orde Baru, Harry Tjan Silalahi, khusus menulis di Kompas berjudul "Parpol Lokal, Siapa Takut?" yang didukung oleh J Kristiadi. Intinya, mempertanyakan sikap keras sebagian elite yang ngotot menolak parpol lokal. Padahal, inti reformasi demokrasi adalah desentralisasi, dekonsentrasi, dan otonomi.
Pemrakarsa perdamaian Aceh adalah mantan Presiden Finlandia ke-11 (1994-2000), Martti Ahtisaari berwadah NGO Crisis Management Initiative (CMI). Di Finlandia, pada tahun 1975 ditandatangani Helsinki Accord dengan missi menekan Uni Soviet untuk melonggarkan kontrol terhadap warga negara Soviet yang ingin beremigrasi keluar Soviet. Kalau tidak, bantuan dan investasi Barat tidak akan mengalir ke Uni Soviet.
Helsinki Accord adalah salah satu paku pengubur Uni Soviet dan komunisme. Norwegia menjadi pemrakarsa perdamaian Israel-Palestina dengan Konferensi Oslo 1993 yang akan menghasilkan hadiah Nobel Perdamaian 1994 untuk Arafat, Rabin dan Peres. Para pemimpin GAM berstatus WN Swedia dan bermukim di negara itu serta memperoleh fasilitas jaminan sosial yang memadai. Bahkan, mereka memperoleh ganti rugi, gara-gara pernah diinterogasi dan ditangkap atas desakan pemerintah RI.
Ketiga negara itu bersama Denmark dan Islandia, yang dikenal sebagai Skandinavia, adalah negara Eropa yang tidak pernah menjadi kolonialis. Namun, mempunyai rasa kemanusiaan besar, melampaui tanggung jawab sejarah. Tapi pembunuh PM Swedia, Olof Palme (1927-1986), sampai detik ini tidak bisa diketemukan. Sedang pembunuh Menlu Swedia, Anna Lindh (1957-2003), Mijailo Mijailovic emigran dari Serbia, hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
***
PENCIPTA Hadiah Nobel, Alfred Nobel (1833-1896), adalah orang Swedia walaupun menghimpun kekayaan dari dinamit atau senjata pemunah massal (WMD-weapons of mass destruction).
Sekjen PBB yang pertama berkebangsaan Norwegia, Trygve Lie (1946-1952). Sekjen PBB kedua, Dag Hammarskold (1953-1961) dari Swedia gugur di Congo. Konflik di Congo waktu itu memuncak karena Uni Soviet menjagoi PM Patrice Lumumba, sedang mantan kolonialis Belgia menjagoi mafia lawan politiknya, Kasavubu, Moise Tshombe dan Mobutu yang akhirnya akan tampil jadi diktator Congo dan mengganti nama negara itu menjadi Zaire.
Setelah Mobutu digulingkan, nama Zaire dikembalikan jadi Congo. Dag Hammarskjold tewas dalam pesawat yang jatuh setelah PM Khruschov menuntut agar Sekjen PBB diganti tiga orang Troika. Semacam presidium komunis, dengan tiga wakil dari blok Barat, blok Komunis dan dunia Ketiga. Sekjen PBB ketiga ialah U Thant (1961-1971) dari Birma yang akan mengalami nasib tidak disukai oleh junta militer Birma, Jenderal Ne Win. Yang seperti Soeharto, tidak ingin orang sebangsa lebih unggul di mata dunia.
Seandainya tidak ada negara-negara Skandinavia maka tidak ada Hadiah Nobel. Juga GAM tidak akan punya peluang untuk hidup menikmati jaminan sosial dari negara kapitalis liberal sambil menggerakkan pemberontakan di Aceh. Kalau tidak ada Finlandia, siapa yang akan menjadi Martti Ahtisaari.
Sebuah organisasi di Swiss, Henri Dunant Center, pernah memprakarsai gencatan senjata RI-GAM yang ternyata berlarut-larut dan gagal. Kalau tidak ada prakarsa Oslo, maka Arafat, Rabin dan Peres pasti tidak akan pernah dapat hadiah Nobel 1994 karena belum pernah mau berdamai.
***
SEANDAINYA rezim Skandinavia itu kapitalis liberal rasis dan bernapas Yahudi Kristen, tentu tidak akan ada suaka politik untuk Teuku Hasan di Tiro. Seandainya Skandinavia itu berwatak bule imperialis, kolonialis, mereka tentu tidak punya kepedulian atas nasib Dunia Ketiga, HAM dan demokrasi di pelbagai penjuru dunia.
Seandainya Skandinavia itu melestarikan watak leluhur Viking yang dulu pernah menjadi momok bagi bangsa bangsa Eropa daratan. Karena terkenal sebagai bajak laut bar bar yang hanya bisa memperkosa dan menjarah bangsa lain yang lemah dan kalah. Maka, tidak akan ada riwayat Hadiah Nobel Perdamaian dan Hadiah Nobel lainnya.
Seandainya Skandinavia tidak ada, apakah negara-negara Arab dan Timur Tengah punya iktikad baik dan kepedulian untuk membantu menyelesaikan masalah Aceh? Atau benar-benar punya kepedulian dan keprihatinan untuk menyelesaikan masalah Palestina secara damai atas dasar saling menghidupi timbal balik antara Israel dan Palestina, Yahudi dan Arab?
Seandainya tidak ada Skandinavia, apakah Iran atau Irak atau Mesir atau Saudi Arabia punya kepedulian untuk mendamaikan Aceh? Seandainya tidak ada Skandinavia, apakah bisa Yudhoyono Kalla melakukan terobosan Aceh untuk memperoleh Nobel?
Pernyataan tentang seandainya Skandinavia tidak ada bisa juga berlaku untuk negara dan kekuatan lain di dunia yang kita kenal sepak terjangnya. Pendapat umum dunia masih tetap lebih pro kepada terorisme dan anti-Barat, anti-AS, anti-Bush, anti-demokrasi, dan anti-HAM.
Semua merasa punya arogansi untuk mempertahankan ciri khas etnis, ras, agama, dan budaya sebagai cara menolak intervensi asing atau Barat. Tapi semua negara Dunia Ketiga umumnya terpuruk dalam perang saudara, perang dengan tetangga, pembunuhan politik, genocide, democide, pembantaian dan penjarahan sesama bangsa atau kelompok minoritas ras etnis dan agama.
Seluruh Dunia Ketiga paling asyik menepuk dada sebagai anti-asing, anti-Barat, anti-demokrasi. Tapi mereka semua sulit membebaskan diri dari keterpurukan dan keterbelakangan. Karena model yang mereka ambil adalah despot abad ketujuh primitif, yang terbelakang, hanya bisa saling bantai dan saling jarah untuk merebut kekuasaan secara sadis dan tidak bermoral.
Skandinavia eksis karena dunia membutuhkan fenomena unik kekuatan moral imparsial yang mengutamakan kemanusiaan, keadilan dan kebenaran serta kejujuran. Jika kebaikan hati ini sampai dihancurkan oleh perang global melawan teror, dunia dan umat manusia jelas sedang menuju jurang kehancuran moral, bumi hangus politik dan kiamat global yang tidak terselamatkan.
Karena, moral yang menyamakan demokrasi dengan terorisme, yang menyetarakan teroris dengan korban teror, hanya akan menghasilkan rezim teroris global yang jelas tidak akan punya harkat dan kepedulian manusiawi seperti Skandinavia.
Skandinavia merupakan kemenangan moral demokrasi dan HAM atas ideologi terorisme. Tapi jika sampai ideologi terorisme menang di Eropa karena Wali Kota London, Ken Livingstone, seorang atheis anarkis nihilis, justru membenarkan terorisme. Barangkali itulah saatnya dunia harus pamitan dari kehidupan dan kemanusiaan.
Baru sehari setelah wali kota komunis itu berpidato membela teroris, bom meledak lagi 21 Juli, dan besoknya polisi terpaksa menembak mati buronan teroris. Perang teror sudah pindah dari Irak ke Eropa. Dunia memasuki akhir zaman, kiamat global karena dengan moralitas najis seperti Ken Livingstone, manusia tak berdosa dibenarkan untuk dibom oleh teroris.
Yang akan menghancurkan peradaban dan kemanusiaan bukan sekadar karya tangan Osama bin Laden, melainkan rekayasa otak kotor Ken Livingstone dan Noam Chomsky. OBL sekadar eksekutor, sedangkan filosofnya justru bule tulen seperti Ken Livingstone dan Noam Chomsky.
Teroris tidak akan habis hanya karena bunuh diri atau ditembak. Mereka akan terus lahir baru karena fatwa sesat Ken Livingstone, Noam Chomsky, BBC, dan media massa pro teroris nihilis yang menguasai London, New York, Los Angeles.
Thomas Friedman dalam The New York Times, 22 Juli menganjurkan agar para pembela dan penganjur teroris diperlakukan dan dihukum sama seperti teroris. Sebab mereka justru merupakan sumber teroris yang jauh lebih berbahaya dari teroris yang sudah mati bersama korban.
Aktor intelektual terus melahirkan kloning teroris baru yang selalu dibenarkan oleh fatwa sesat penganjur dan pembenar terorisme. Sabtu kemarin yang menjadi korban adalah sesama Muslim di Sharm Al Shaikh, Mesir. Masih adakah waktu untuk menyembah, memaklumi, memahami dan mendukung terorisme atas nama solidaritas agama atau kelas komunis atheis sebelum dunia dikiamatkan oleh teroris bernuklir? *
BANDA ACEH-Ketua Initial Monitoring Presence (IMP) Pieter Cornelis Feith menjamin perdamaian Aceh tidak akan gagal. Jika pun terjadi kendala, persoalan Aceh tidak diserahkan ke PBB. Soal Aceh nanti hanya akan dikembalikan ke mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari.” Tidak ada internasionalisasi, dan Aceh tidak akan lepas dari NKRI,” ujar Fiet, seorang figur politik Uni Eropa yang banyak pengalamannya dalam soal perdamaian.
Feith menegaskan hal itu dalam wawancara khusus dengan wartawan Serambi Zainal Arifin M Nur dan Suprijal Yusuf, Jumat(19/8) kemarin. Saat ini Pieter Feith masih menjabat sebagai Ketua Tim Pemantau Awal, dan sejak tanggal 15 September nanti dia akan menjadi Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM). Fieth menyatakan sangat optimis bahwa missi perdamaian ini akan berhasil. Dukungan moral, katanya telah juga disampaikan oleh negara-negara besar di dunia. “Itu menjadi indikasi bahwa semua pihak mendukung perdamaian. Tidak alasan bagi GAM maupun RI untuk tidak menyukseskan perdamaian ini,” kata Fieth.
Wawancara lengkap Serambi Indonesia dengan Pieter Fieth, sebagai berikut:
Serambi (SI): Bagaimana caranya AMM bisa memastikan jumlah senjata GAM, dan bagaimana menemukan senjata yang disembunyikan?
Pieter C Feith (PF): Yang tidak akan dilakukan oleh Tim AMM adalah, kita tidak akan mencari senjata. Kita akan menerima senjata dari GAM di tempat dan waktu yang telah disepakati (oleh RI dan GAM). Senjata yang dikumpulkan adalah senjata yang masuk dalam kategori berfungsi dan standar. Ini akan dimasukkan ke dalam total jumlah senjata yang 840 pucuk, (sesuai dengan data yang ada dalam nota kesepahaman). Jadi kami tidak akan berjalan keliling Aceh untuk mencari senjata. Tidak.
SI: Jika setelah senjata yang terkumpul dinyatakan telah dimusnahkan, tapi kemudian ternyata ada orang sipil atau GAM yang memiliki senjata. Bagaimana sikap AMM?
PF: Penggunaan senjata oleh GAM itu adalah suatu bentuk pelanggaran dari nota kesepahaman. Jadi kalau ada anggota GAM yang menggunakan senjata itu adalah suatu pelanggaran dan tidak akan mendapat amnesti. Semua senjata yang kemungkinan ditemukan setelah pengumpulan senjata sebelumnya, akan ditangani oleh polisi.
SI: Apakah wakil Indonesia dan GAM yang duduk dalam Tim AMM akan diseleksi terlebih dahulu?
PF: Tidak akan diseleksi, itu terserah kepada GAM dan Pemerintah Indonesia, siapa yang akan dipilih untuk duduk dalam komisi (yang dibentuk AMM). Tapi AMM mengharapkan agar wakil yang akan dikirim oleh GAM adalah orang yang memiliki kewenangan, karena mereka harus mampu berkomunikasi di level yang sama dengan yang ada di militer dan kepolisian. AMM sedang berusaha untuk membentuk suatu badan pekerja di bawah suatu komisi yang dijadwalkan akan dimulai pada Senin depan, setelah perwakilan dari GAM tiba di Banda Aceh.
SI: Sejauh mana peranan wakil-wakil Indonesia dan GAM dalam komisi itu?
PF: Mereka pemain utama dalam komisi ini. Karena wakil-wakil dari kedua belah pihak ini yang akan merumuskan perencanaan dan pengaturannya, kami akan memfasilitasi, dan membantu. Kita memiliki beberapa ide, adalah sangat penting kalau semua pihak menunjukkan transparansi yang jelas. Dengan cara itu kita akan mendapatkan pengaturan yang lebih baik lagi.
SI: Berapa jumlah wakil RI dan GAM yang akan duduk di komisi itu?
PF: Tiga sampai empat orang (dari masing-masing perwakilan, TNI, Polri dan GAM). Struktur itu akan dilaksanakan di setiap kantor perwakilan AMM di Aceh. Kita juga akan melibatkan beberapa perwakilan dari Organisasi Migrasi Internasional (IOM) untuk mendiskusikan beberapa inti atau gagasan. Dan juga mendiskusikan beberapa ide mengenai amnesti dan juga para mantan anggota GAM yang telah meletakkan senjata.
SI: Apakah dalam mengambil solusi terhadap perselisihan yang timbul di lapangan, AMM akan mendengarkan pendapat dari wakil GAM dan wakil RI?
FP: Kami akan tetap netral dan kami tidak akan terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Ini berbeda dengan CoHA, kami tidak akan memberikan nasehat kepada GAM. Kami akan tetap netral dan adil, kami berada di tengah-tengah.
SI: Anda yakin bahwa kedua belah pihak ini bisa mencapai kata sepakat?
FP: Saya sangat optimis, karena kedua belah pihak telah menunjukkan sikap keinginan yang baik untuk mencapai kesepakatan damai.
SI: Tentang penarikan pasukan TNI dan Polri non organik dari Aceh. Apakah AMM sudah mempunyai data pasti tentang jumlah anggota TNI dan Polri non organik di Aceh.
FP: Ya. Contohnya nanti pada hari Senin bakal ada penarikan dua batalyon pasukan secara sukarela. Fieth mengatakan bahwa data tentang jumlah TNI dan Polri non organik di Aceh sudah ada dalam MoU.
SI: Bagaimana kalau data tentang jumlah senjata dan pasukan non organik di Aceh itu ternyata palsu?
FP: Kenapa harus dipalsukan, inikan sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Problemnya akan muncul jika kita akan dapat kurang dari 840 senjata. Dan kita akan memprotes kepada pihak GAM, “kenapa ini kurang dari jumlah yang tercantum dalam MoU.” Demikian juga jika ternyata jumlah pasukan non organik yang ditarik, kurang dari jumlah yang tercantum dalam MoU. Kita juga akan mempertanyakan hal ini kepada pemerintah Indonesia.
SI: Apakah kehadiran Tim AMM ini murni atas kesepakatan kedua belah pihak, dan Uni Eropa serta ASEAN tidak memiliki kaitan dan kepentingan politik negara masing-masing?
FP: Ya. UE dan ASEAN tidak memiliki kepentingan politik apa-apa di sini. UE berkomitmen untuk tetap menekankan integritas (keutuhan) Republik Indonesia. Kita menolak segala bentuk separatis. Kita tidak mau melihat suatu negara itu hancur.
SI: Di Indonesia ada sebagian pihak berpendapat bahwa kehadiran AMM ini adalah tahap awal dari internasionalisasi masalah Aceh, dan seterusnya Aceh akan menjadi “Timor Timur kedua.” Bagaimana anda menjelaskan ini?
FP: Tidak ada dasar apapun untuk berfikir seperti itu. Kita di sini atas undangan Pemerintah Indonesia. Kita akan pergi kalau misi ini telah selesai. Jadi kami hanya akan menjalankan tugas kami sesuai dengan nota kesepahaman yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Timor Timur itu kasusnya menyebabkan dia lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan untuk kasus ini, Aceh akan tetap berada dalam wilayah NKRI.
SI: Soalnya ada banyak reaksi dari negara-negara besar, termasuk AS, Jepang, EU, Australia, dan bahkan PBB juga sudah menyatakan mendukung upaya damai ini.
FP: Mereka (negara-negara itu) memberikan dukungan untuk perdamaian kan? Tapi mereka tidak terlibat (dalam proses ini).
SI: Jika salah satu pihak melanggar dari kesepakatan dan semua prosedur damai telah ditempuh oleh AMM, tapi tetap saja gagal. Apakah anda akan membawa kasus ini ke PBB?
FP: Tidak. Persoalan ini akan dibawa kembali ke mantan Presiden Finlandia, Marti Ahtisaari yang akan memberikan nasehat kepada AMM. Dan kami akan membawa masalah ini kepada pemerintah Indonesia dan GAM (yang telah menyepakati perjanjian damai ini). Masalah ini tidak akan dibawa ke PBB.
SI: Apakah ada sanksi-sanksi internasional kepada pelanggar kesepakatan?
FP: Tidak. Artinya, masalah ini tidak akan dilimpahkan ke PBB.
SI: Kalau begitu, apa yang membuat anda dan AMM sangat yakin bahwa ini akan berhasil
FP: Kita memiliki kesepakatan yang baik, dan kerjasama yang bagus antara negara-negara Uni Eropa dan negara-negara ASEAN. Dan ada komitmen yang kuat dari Pemerintah Indonesia, dan komitmen yang kuat dari para pimpinan GAM.
SI: Kalau perundingan ini gagal, seperti pada masa CoHA yang kemudian diikuti dengan operasi militer, apa yang akan dilakukan oleh AMM
FP: Menurut pandangan saya, ini tidak akan gagal
SI: Apa dasarnya sehingga anda sangat yakin.
FP: Memang tidak ada jaminan 100 persen ini akan berhasil, karena memang ada beberapa pihak yang ingin ini berhasil, ada yang ingin menggagalkan ini. Tapi kita bisa berurusan dengan hal ini. Ada support dan dukungan yang amat sangat luas dari masyarakat Aceh terhadap kesepakatan ini. Anda sudah pernah dengar laporan tentang ada anggota GAM yang sudah menyerah bersama senjatanya sebelum 15 September, dan TNI/Polri juga sudah menarik beberapa batalyon sebelum tanggal 15 September. Jadi semua ini mengarah kepada suatu tingkat keberhasilan yang cukup menarik.(*)
****************************************************************
PERMAS dibentuk sebagai wadah perhimpunan untuk semua golongan/organisasi/kelompok yang berjuang untuk mengusir penjajahan RI dari bumi Aceh yang tercinta. Bearangkat dari pada itu, sejak setahun yang lalu telah dilakukan diskusi, komunikasi dan koordinasi secara intensif antara masyarakat Aceh di tiga negara Skandinavia (Swedia, Norwegia dan Denmark). Masyarakat Aceh di Skandinavia telah menuangkan idé dan fikiran barunya dengan melihat jauh kedepan memikirkan bagaimana dapat membantu perjuangan kemerdekaan bangsa Aceh tanpa merugikan golongan tertentu.
Sesuai dengan tujuannya untuk menyatupadukan masyarakat Aceh diluar negeri, khususnya di negara-negara Skandinavia, maka diharapkan kita dapat tolong menolong, bahu membahu, dengan melepaskan kepentingan pribadi dalam memikirkan berbagai masalah Aceh sesuai dengan kemampuan kita bersama.
ASSOCIATION OF ACHEHNESE COMMUNITY IN SCANDINAVIA (AACS)
PERMAS is founded as organization to all groups/organization/social class that struggle colonization of Indonesia in our beloved country. Followed from that, since a year ago there has been intensively discussion, communication and coordination between Achehnese in three Scandinavian countries (Sweden, Norway and Danmark). Achehnese Scandinavian has given new ideas and thoughts and to think far ahead to help the struggle of Achehnese independence without damaging any other groups.
Based on its goal to unite Achehnese people abroad, especially in the Scandinavian countries, so that by existing it we can help each other, hand in hand, releasing our own interests to think and solve the problems together based on our own ability.
Pertemuan di Malaysia untuk Sosialisasikan MoU Perdamaian
Sementara itu, Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia, dalam rilis yang diterima acehkita, menyatakan mendukung usaha-usaha damai untuk mengakhiri konflik Aceh dengan Indonesia secara demokratis, adil dan bermartabat. Kendati demikian, Permas tidak menyokong penghilangan tuntutan kemerdekaan bagi Aceh, yang oleh mereka dipandang tidak demokratis. Karenanya, mereka menyatakan tidak terlibat dalam perundingan ini. [dzie]
Kuala Lumpur, acehkita. Pertemuan masyarakat Aceh yang berlangsung di Bangi, Selangor, Malaysia, berakhir Rabu (10/8). Hadir dalam pertemuan itu sekitar 200-an lebih warga sipil Aceh dari berbagai sub-etnis, elemen/profesi, serta tempat domisili.
Selain para negosiator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Bachtiar Abdullah, Nurdin Abdurahman, dan M Nur Djuli, hadir pula penasehat GAM, Damien Kingsbury, dan dari OPC, Jan Hodann.
“Pertemuan ini lebih bertujuan sebagai sosialisasi draf MoU. Peserta yang merupakan wakil dari berbagai elemen masyarakat Aceh itu dapat meneruskan sosialisasi ini kepada masyarakat Aceh lain di lingkungannya,” jelas Damien Kingsbury.
Acara yang disponsori oleh The Olof Palma Center (OPC) berlangsung dua hari dan telah menghasilkan sejumlah rekomendasi.
Rekomendasi yang dihasilkan itu, menurut Damien, tidak akan dimasukkan lagi ke dalam draf MoU yang akan ditandatangani tersebut. “Karena, isi draf itu sudah final, sudah disepakati, dan tinggal ditandatangani,” tambahnya. Rekomendasi peserta pertemuan itu hanya akan menjadi bahan pertimbangan serta bahasan dalam proses selanjutnya. Namun, ia enggan memaparkan rekomendasi pertemuan itu.
Begitupun, peserta tampak antusias mengikuti seluruh sesi acara. Terutama sesi diskusi. Kritik, saran, pertanyaan, maupun masukan, diajukan bertubi-tubi kepada para negosiator GAM yang duduk di depan. Peserta terdiri dari berbagai elemen masyarakat, seperti ulama, anggota DPR/DPRD, tokoh wanita, akademisi, usahawan, jurnalis, LSM, kelompok tani dan nelayan, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, bahkan termasuk pula beberapa ‘pejabat sipil’ GAM dari Aceh. Pertemuan umumnya berlangsung dalam bahasa Aceh.
Peserta pertemuan sepakat mendukung upaya perdamaian yang ditandai dengan penandatanganan MoU antara pihak GAM dan pihak pemerintah RI.
Sementara itu, Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia, dalam rilis yang diterima acehkita, menyatakan mendukung usaha-usaha damai untuk mengakhiri konflik Aceh dengan Indonesia secara demokratis, adil dan bermartabat. Kendati demikian, Permas tidak menyokong penghilangan tuntutan kemerdekaan bagi Aceh, yang oleh mereka dipandang tidak demokratis. Karenanya, mereka menyatakan tidak terlibat dalam perundingan ini. [dzie]
2005-08-12 10:42:36
Sementara itu, Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia, dalam rilis yang diterima acehkita, menyatakan mendukung usaha-usaha damai untuk mengakhiri konflik Aceh dengan Indonesia secara demokratis, adil dan bermartabat. Kendati demikian, Permas tidak menyokong penghilangan tuntutan kemerdekaan bagi Aceh, yang oleh mereka dipandang tidak demokratis. Karenanya, mereka menyatakan tidak terlibat dalam perundingan ini. [dzie]
Kuala Lumpur, acehkita. Pertemuan masyarakat Aceh yang berlangsung di Bangi, Selangor, Malaysia, berakhir Rabu (10/8). Hadir dalam pertemuan itu sekitar 200-an lebih warga sipil Aceh dari berbagai sub-etnis, elemen/profesi, serta tempat domisili.
Selain para negosiator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Bachtiar Abdullah, Nurdin Abdurahman, dan M Nur Djuli, hadir pula penasehat GAM, Damien Kingsbury, dan dari OPC, Jan Hodann.
“Pertemuan ini lebih bertujuan sebagai sosialisasi draf MoU. Peserta yang merupakan wakil dari berbagai elemen masyarakat Aceh itu dapat meneruskan sosialisasi ini kepada masyarakat Aceh lain di lingkungannya,” jelas Damien Kingsbury.
Acara yang disponsori oleh The Olof Palma Center (OPC) berlangsung dua hari dan telah menghasilkan sejumlah rekomendasi.
Rekomendasi yang dihasilkan itu, menurut Damien, tidak akan dimasukkan lagi ke dalam draf MoU yang akan ditandatangani tersebut. “Karena, isi draf itu sudah final, sudah disepakati, dan tinggal ditandatangani,” tambahnya. Rekomendasi peserta pertemuan itu hanya akan menjadi bahan pertimbangan serta bahasan dalam proses selanjutnya. Namun, ia enggan memaparkan rekomendasi pertemuan itu.
Begitupun, peserta tampak antusias mengikuti seluruh sesi acara. Terutama sesi diskusi. Kritik, saran, pertanyaan, maupun masukan, diajukan bertubi-tubi kepada para negosiator GAM yang duduk di depan. Peserta terdiri dari berbagai elemen masyarakat, seperti ulama, anggota DPR/DPRD, tokoh wanita, akademisi, usahawan, jurnalis, LSM, kelompok tani dan nelayan, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, bahkan termasuk pula beberapa ‘pejabat sipil’ GAM dari Aceh. Pertemuan umumnya berlangsung dalam bahasa Aceh.
Peserta pertemuan sepakat mendukung upaya perdamaian yang ditandai dengan penandatanganan MoU antara pihak GAM dan pihak pemerintah RI.
Sementara itu, Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia, dalam rilis yang diterima acehkita, menyatakan mendukung usaha-usaha damai untuk mengakhiri konflik Aceh dengan Indonesia secara demokratis, adil dan bermartabat. Kendati demikian, Permas tidak menyokong penghilangan tuntutan kemerdekaan bagi Aceh, yang oleh mereka dipandang tidak demokratis. Karenanya, mereka menyatakan tidak terlibat dalam perundingan ini. [dzie]>>>>